Friday, 16 November 2018

Cara Memilih Perguruan Tinggi Negeri Lewat SNMPTN




Masa yang paling galau bagi para pelajar adalah ketika memasuki kelas 3 SMA , ya bingung mau nentuin pilihan mau lanjut ke perguruan tinggi yang mana. Nah, untuk itu ada tips-tips cara memilih PTN lewat SNMPTN.....

1. Untuk SNMPTN undangan, pilih jurusan yang sesuai dengan keunggulanmu berdasarkan nilai raport. lihat raportnya setiap semester, dari raport itu akan terlihat kamu unggul dipelajaran apa, lalu pilih jurusan yg relevan dengan pelajaran tersebut.
UKUR diri, apa raportmu bisa bersaing debgan orang lain di PTN yang dituju. jika misalnya di sekolah ada yqng milih jurusan tersebut, sama dengan kamu, dan ternyata rapotnya lebih bagus nilainya daripada kamu, lebih baik ganti jurusannya atau ganti universitasnya (dengan jurusan yg sama).
logikanya, kalau tingkat sekolah saja kamu sudah kalah, apalagi tingkat nasional? peluang kamu bisa bersaing sangat kecil dan biasanya PTN tiap jurusan tidak menerima dua orang dari satu sekolah di jurusan yg sama.

2. Untuk SNMPTN UNDANGAN, pilih jurusan yg benar-benar sesuai dengan raportmu.. jangan terlalu tinggi pilihannya..dari pilihan PTN pertama dan jurusan pertama sudah harus realistis… bahkan pilihan pertama harus realistis banget. wajib!.
kenapa? karena 80% yg diterima PTN via undangan adalah diterima di pilihan pertama. jadi optimalkan pilihan pertama mu! jangan berkhayal diterima di jurusan yg berdaya saing tinggi dengan nilai rapot yang standar.
kalau kamu ingin coba-coba masuk jurusan yang bagus yang kamu impikan tapi nilai raportmu tidak menunjang, cobalah via jalur tulis saja, jangan via undangan. karena sayang kesempatan diterima via SNMPTN akan terbuang. PILIHAN PERTAMA ITU PENTING karena peluang diterimanya tinggi.
bagaimana cara melihat nilai kita menunjang atau tidak untuk diterima di jurusan tersebut? cara yang paling mudah adalah dengan cara melihat saingan. jika dibandingkan dengan saingan di sekolah saja kita sudah kalah, kemungkinan diterima mendekati nol.

3. Untuk SNMPTN undangan, jangan pernah sandingkan UI, UGM dan ITB sebagai pilihan.
jika ingin pilih UI, cukup UI saja. jika ingin pilih ITB, ITB saja. lalu di pilihan kedua, sandingkan dengan PTN yang lain yang passing grade nya dibawah PTN tersebut.
meski kamu punya piagam olimpiade tingkat kota, peluang diterima sangat kecil jika kamu menyandingkan PTN-PTN tinggi. setiap PTN punya subjektivitas masing-masing.

4. Perlu diketahui, PTN punya subjektivitas masing2 untuk menerima siswa SNMPTN undangan.
jadi meski nilai raportmu tinggi, belum tentu diterima di PTN pilihan pertamamu. kenapa?
karena yang pertama dinilai PTN itu adalah kualitas sekolah dan kualitas alumninya.
selain sekolahnya, kualitas alumninya juga dipertimbangkan. penilaian kualitas alumni oleh PTN dilihat dari nilai alumni sekolah yg kuliah di PTN tersebut, berapa IPK nya di semester 1 & 2. jika nilai alumni bagus, berarti alumni disekolah itu berpotensi. sebaliknya, jika nilai tidak bagus atau bahkan di PTN tersebut tidak ada alumni dari sekolah kalian, peluang kalian diterima di PTN tersebut sangat kecil. jadi untuk memperbesar peluang diterimanya kalian di PTN, pilihlah PTN yang memiliki alumni banyak dari sekolah kalian.
setelah dinilai sekolah dan alumni, baru deh dilihat nilai raport kalian. jadi nilai raport besar belum tentu diterima kalau nilai sekolah dan alumni di mata PTN yang kalian lamar itu jelek (bahkan bisa jadi tidak dilirik sama sekali).
jadi jangan heran apabila ada sekolah yang muridnya berbondong-bondong diterima di PTN tertentu. ada SMA di bandung yang memiliki kepercayaan tinggi dari ITB sehingga banyak alumninya yang diterima di sana. begitupun dengan UI, ada beberapa sekolah di jakarta yang alumninya bisa diterima dengan mudah di UI. Makanya jika nilai raport tidak terlalu besar, tidak punya piagam juara banyak, rendah hati lah. pilih jurusan di pilihan pertama dengan sangat REALISTIS. jika ingin mencoba yang tidak realistis berdasarkan raportmu, jangan coba via SNMPTN UNDANGAN. cobalah masuk jurusan yang kamu impikan via ujian tulis saja (UM dan SBMPTN). tapi bukan berarti kamu tidak mengikuti SNMPTN, tetap ikuti, tapi gunakan strategi. di SNMPTN realistis, di SBMPTN kejarlah mimpimu dan buktikan kualitasmu.

jangan takut diterima di jurusan PTN yang tidak terlalu kamu inginkan. tetapi takutlah tidak diterima di PTN sama sekali. ketika kamu berjuang masuk PTN, lalu ternyata kamu tidak diterima sementara teman-temanmu diterima, itu rasanya SAKIT sekali. karena setelah itu, kalian akan menempuh jalan masing-masing, dan teman-temanmu yang diterima akan sibuk dengan urusannya untuk registrasi ke PTN yang menerimanya, sementara kamu masih harus berjuang untuk diterima.
oleh karena itu, kesampingkan egomu, upayakan berbagai kesempatan mu di semua jalur masuk PTN. dan berbanggalah ketika kamu di terima.




CARA MENGHEMAT UANG JAJAN

Whats up gengs... ketemu lagi dengan kami @duniapelajarmia. Kali ini kami akan memberikan jurus jitu untuk menghemat pengeluaran. Yah, pastinya banyak dari kita ni yang merantau jadi anak kos untuk sekolah atau kuliah. pastinya suka bingung dan galau kalau udah akhir bulan, duit nipis, mana kebutuhan masih banyak. Sekarang gak perlu galau lagi ada jurus jitu menghemat uang jajan. 

1. Jalan Kaki Atau Naik Sepeda

Transportasi untuk mobilitas siswa juga merupakan pos pengeluaran keuangan yang perlu diperhatikan. Apalagi bila jarak tempat kos dan sekolah  berjarak cukup jauh sehingga harus ditempuh dengan kendaraan. Hal seperti ini mungkin tidak menjadi suatu permasalahan apabila tempat kos siswa persis di perumahan belakang sekolah sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki. Oleh sebab itu pemilihan lokasi tempat kos juga perlu diperhatikan.
Pertimbangannya adalah semakin jauh tempat kos dengan kampus maka juga akan memerlukan pos anggaran pengeluaran uang untuk transportasi semisal ongkos naik angkot, taksi, bensin sepeda motor atau mobil. Dari sekian pilihan maka bisa dicari solusi untuk menghemat biaya transportasi maka dicari tempat kos yang dekat dengan sekolah sehingga bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bila memilih lokasi tempat kos yang sedikit lebih jauh, maka setidaknya memungkinkan untuk ditempuh dengan naik sepeda.

2. Hobi Yang Tidak Memerlukan Biaya Besar

Hobi atau kesukaan adalah suatu hal yang sangat pribadi, personal, dan bahkan bersifat sangat emosional. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa dijelaskan secara nalar berkaitan dengan hal tersebut. Hal mengenai hobi dan kesukaan ini juga berkaitan dengan suatu pengalaman batin. Oleh karena itu diperlukan sikap dan pikiran yang tenang dalam membahas permasalahan ini. Setelah itu baru mencoba untuk memikirkan dan membahas ulang berkaitan dengan hobi yang bila itu memerlukan biaya besar maka perlu ditinjau ulang.
Apalagi bila sudah menetapkan mengambil keputusan untuk melakukan penghematan, maka perlu dicari alternatif lain hobi yang bisa mendukung program penghematan uang bulanan yang telah ditetapkan tersebut. Secara perlahan apabila pikiran dan hati sudah terbuka maka akan tercapailah penghematan dengan mengalihkan hobi yang mahal menjadi hobi yang tidak memerlukan biaya besar. Atau bisa juga mengarahkan hobi menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan pemasukan finansial. Tentunya hal seperti ini akan lebih bisa memakmurkan dari sisi keuangan pribadi (personal finance).

3. Berbisnis
Siswa yang berbisnis adalah siswa yang luar biasa. Siswa tersebut akan belajar mengembangkan diri dan meningkatkan keterampilannya pada aspek-aspek yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis yang dijalankannya. Seorang siswa yang berbisnis akan lebih fleksibel dalam pengaturan waktunya. Siswa yang berbisnis bisa lebih fleksibel dalam mengatur waktunya karena pada dasarnya dialah yang memiliki suatu bisnis dan bisa jadi mungkin siswa tersebut yang memiliki karyawan yang membantunya menjalankan roda bisnisnya.
Namun sekolah tetap prioritas utama karena terkadang bisnis bisa mengalihkan fokus siswa sehingga proses pembelajaran menjadi terbengkelai. Berbisnis bagi siswa juga akan mengajarkan arti berhemat yang sesungguhnya dan menghadapi kasus-kasus penghematan secara langsung.

4. Menabung

Siswa juga perlu menabung. Terutama bila siswa tersebut memiliki target-target tertentu yang memerlukan pendanaan sejumlah uang tertentu. Dengan menabung maka siswa akan semacam “dipaksa” untuk berhemat sehingga akan ada alokasi dana untuk ditabung. Terkadang untuk bisa itu harus sedikit dipaksa.

5. Bawa Air Minum Sendiri

Kegiatan di sekolah bisa jadi sangat menguras tenaga. Sekolah-sekolah yang luas bisa jadi memiliki bangunan yang letaknya berjauhan. Sehingga bila  misalnya antara kegiatan satu dengan kegiatan yang lainnya dilakukan di gedung terpisah maka memerlukan mobilitas yang itu bila ditempuh dengan berjalan akan melelahkan. Maka di sinilah salah satu letak pentingnya membawa air minum untuk melepas dahaga saat tubuh bekerja keras dan juga saat otak digunakan untuk berpikir keras.

Bisa jadi memang air minum bisa dibeli berupa air kemasan dalam botol. Tetapi terus-menerus membeli air kemasan akan membebani keuangan mahasiswa oleh karena itulah penting membawa air minum sendiri. Membawa air minum sendiri secar ekologis juga lebih ramah lingkungan karena botolnya tidak sekali pakai seperti pada botol air kemasan.

6. Memasak Makanan Sendiri

Memasak makanan sendiri akan mengoptimalkan proses penghematan yang dilakukan oleh siswa. Ibaratnya memasak sendiri adalah memangkas ongkos jasa dimasakkan orang lain seperti bila membeli makan di kedai warung atau di rumah makan. Memasak sendiri berarti memilih dan membeli sendiri bahan-bahan yang akan dimasak sehingga bisa diatur sedimikian hingga tetap hemat namun tetap mencukupi asupan gizi yang diperlukan siswa. 

7. Membawa Bekal Makan Ke Sekolah

Setelah poin sebelumnya membahas mengenai memasak sendiri maka selanjutnya makanan tersebut bisa dibungkus atau dimasukkan ke wadah makanan dan dibawa ke sekolah sebagai bekal. Jadi memakan makanan masakan sendiri tidak hanya bisa dimakan di tempat kos tapi juga bisa dibawa ke kampus dan dimakan di sana. Apalagi kalau saat-saat tertentu membawa makanan berlebih maka bisa dibagi ke teman-teman lainnya. Acara makan bersama kecil-kecilan pun akan terlaksana dengan nikmat dan gembira.

8. Mencuci Pakaian Sendiri

Bila rutin mencucikan pakaian di tempat laundry tentunya juga akan memberikan pos pengeluaran bulanan tersendiri. Sehingga bila ingin menghemat uang bulanan anak kosan, maka perlu mencuci pakaian sendiri.

9. Membuat Rencana Anggaran Keuangan Bulanan

Cara dasar menghemat uang bagi siapapun adalah dengan membuat rencana  anggaran keuangan bulanan. Menghemat uang bulanan artinya adalah mengatur bagaimana dengan uang pemasukan rutin setiap bulannya bisa cukup untuk mencukupi kebutuhan selama satu bulan. Caranya adalah dengan membuat daftar segala kebutuhan yang diperlukan selama satu bulan ke depan. Kemudian dari jumlah uang pemasukan rutin setiap satu bulan tersebut diatur dan direncanakan sedemikian rupa sehingga cukup untuk membiayai kebutuhan selama satu bulan.

Apabila sudah diatur dan direncanakan seperti ini maka proses menghemat uang bulanan anak kost akan berjalan dengan sukses. Namun juga perlu diperhatikan untuk melaksanakan rencana anggaran keuangan selama satu bulan tersebut dengan penuh kedisiplinan. Meskipun memang dalam perjalanan pelaksanaan rencana anggaran keuangan tersebut nantinya akan menghadapi beberapa penyesuaian sehingga diperlukan fleksibilitas dan dinamis dalam menjalankan rencana keuangan tersebut.

11. Menjalankan Prinsip-prinsip Hidup Sederhana

Menghemat uang bulanan anak kost, siswa, atau untuk siapa saja, sangat erat hubungannya dengan menjalankan prinsip-prinsip hidup sederhana. Menghemat uang itu ada tantangannya yaitu bujuk rayu dari diri sendiri atau bujuk rayu berbagai macam iklan untuk membelanjakan uang secara boros dengan membeli barang-barang atau jasa yang kurang penting dan kurang mendesak. 

12. Selalu Bersyukur
Selalu bersyukur pada apa yang dimiliki dan apa yang didapatkan akan memberikan kesadaran untuk tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting atau hura-hura. Sadar untuk mencoba berpikir bahwa kesempatan yang dimiliki adalah anugrah pemberian Yang Maha Kuasa. Betapa banyak yang memiliki keinginan untuk bisa mengenyam pendidikan namun belum kesampaian. Oleh karena itu bagi seorang siswa alangkah lebih bijaksana bila bersyukur atas apa yang telah didapatkan. 

Cerpen bertemakan agama


Karya: Dilla Vrisca Ivanti
Hujan




          Terlalu pagi untuk mengawali semuanya. Jam masih menunjukan angka lima, namun Geighi sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Pita-pita kecil berwarna merah yang telah dibentuk, tertempel apik di jilbab putihnya. kalung yang terbuat dari puluhan permen dari rasa dan merk yang berbeda menggantung di leher, tas kardus yang terbungkus kertas kado bertengger di bahu dan yang terakhir adalah sepatu dan kaos kaki yang berbeda warna telah terpasang di kakinya.
          “Biar kak Rio yang anter kamu, liat tuh di luar masih gelep. Mana kondisi hujan.” Sang mama tercinta tak tega melihat putri semata wayangnya pergi sendiri ke sekolah di waktu matahari saja belum berganti tugas dengan bulan.
 “Enggak boleh. Kata kakak kelas harus pergi sendiri. Mulai belajar mandiri. Masa udah SMA masih dianterin.”
 “Biar kakak anter aja dek. Toh kakak kelas kamu enggak akan tahu.” Bujukan itu dilontarkan saat sang adik bersikeras menolak.                                                                              
“kakak kelas Geighi memang enggak akan tahu, tapi Allah Maha Tahu.” Mamanya langsung diam, tidak merayu lagi saat Geighi menyebutkan tentang Allah.                              
“Geighi berangkat dulu. Assalamualaikum.” Geighi mencium pipi dan punggung tangan mamanya, dan tak lupa mencium punggung tangan kakaknya.                                                  
“beneran kamu gak mau dianterin, nanti kalau di jalan ada yang ngira kamu gila. Terus kamu diangkut ke rumah sakit jiwa gimana?” Rio masih terus merayu adik tercintanya.  
“ihh kak Rio, do’anya jelek,” Geighi melotot marah. Mencubit kesal tangan kakaknya sambil berlalu pergi ke sekolah.
          Geisha Ghania Izora, biasa  dipanggil Geighi. Lahir di Bogor 27 Januari 2002. Ibunya seorang dokter disalah satu rumah sakit di Bogor, sedangkan sang ayah adalah seorang TNI angkatan darat. Memiliki seorang kakak yang umurnya empat tahun di atasnya, kini kakaknya tercatat sebagai mahasiswa di IPB,falkutas Ekologi Manusia. Geighi memiliki ciri fisik yang enak dipandang. Tingginya 160 cm dengan berat 50 kg. Kulitnya putih bersih khas wanita sunda dan memiliki dua lesung pipit yang sangat manis.
          Geighi turun dari angkot tepat di depan gerbang sekolah barunya, SMA Nusa Cendekia dan langsung disambut oleh kakak OSIS,                                                                                    
“Selamat subuh menjelang pagi” sapa kakak OSIS yang bername tag Farah Putri.                                                         
“Selamat pagi kak.” Jawab Geighi dengan senyum manisnya.                                                       
“jangan lupa isi lembar absen yang ada atas meja guru ya.” Kata kakak kelas itu.
Geighi mengangguk patuh, lalu berpamitan untuk pergi ke kelasnya. Sesampainya di kelas, Geighi mengisi absen seperti yang diperintahkan kakak kelasnya tadi. Assalamualaikum Ucap Geighi saat memasuki kelas  dia tertidur? Tapi kenapa dia belum menulis namanya di absen? Gumam Geighi, kemudian dia mengisi absen di kolom kedua, karena kolom pertama bukan tempatnya, namun tempat untuk orang yang kini tengah tertidur di bangku paling belakang. Kemudian Geighi duduk di bangku paling depan dan melanjutkan hafalan Al-Qur’an yang sempat tertunda.
          Jam tujuh tepat, dua orang pengurus OSIS memasuki kelas dan memeriksa lembar absen.
 “ada yang belum mengisi absen?” hening  
“Yang belum mengisi absen, maju ke depan!” suara bising mendominasi kelas, mereka saling bertatapan satu sama lain.              
“baiklah, saya panggil satu persatu, yang dipanggil namanya harap angkat tangan.” Seisi kelas kompak mengangguk.                                                                                                                   
“...........”  satu persatu nama sudah disebutkan, kakak kelas bername tag Yazid Al Farruk melangkah menuju bangku paling belakang.                                                                                 
“kamu maju ke depan!” Perintah itu diberikan kepada seorang pria yang sibuk menguap. Tanpa melawan, si murid maju ke depan. Saat dia berdiri di depan kelas, beberapa murid perempuan menahan nafas, mereka tidak menyangka kalau yang sedari tadi menelungkupkan kepalanya adalah Revan Narendra Herland. Pemenang Olimpiade Matematika Tingkat SMP di Beijing dan dia mendapatkan nilai Ujian Nasional tertinggi tingkat SMP se-Indonesia.  gila, aslinya lebih ganteng dari yang gue lihat di koran. celetuk berberapa cewek yang terkagum-kagum melihat Revan.
          Revan Narendra Herland, lahir di Jakarta 11 Januari 2002. Anak tunggal dari keluarga Herland. Ayahnya seorang dosen di salah satu Universitas terkemuka di Jakarta, sedangkan ibunya seorang mantan model. Ciri fisik Revan, dapat dikatakan nyaris sempurna, perpaduan darah Jawa dan darah Jerman membuat Revan menjadi rupawan. Tingginya 170 cm, badannya tegap, alisnya hitam tebal, matanya cokelat terang, hidungnya mancung, tulang rahangnya tegas, kulitnya putih pucat. Tapi jangan bayangkan vampire di film Twilight, karena kulit Revan tidak sepucat itu.                                  
          Masa PLS sudah selesai, sekarang mereka sudah resmi menjadi murid SMA Nusa Cendekia. Lantas mereka sangat bahagia, karena terlepas dari kakak OSIS yang terkenal galak dalam masa PLS. Namun, hari ini merupakan hari yang buruk untuk Geighi, karena dia datang kesiangan sehingga tidak mendapatkan bangku yang strategis. Al hasil, Geighi tidak ada pilihan lagi, dia harus duduk sebangku dengan Revan di bangku paling depan. Yang berjarak satu langkah dari meja guru, dan akan dijadikan sasaran empuk oleh perhatian guru.
          Waktu berlalu begitu cepat, tak dirasa mereka sudah satu tahun bersekolah di Nusa Cendekia, dan selama dua semester ini. Revan mendapatkan peringkat pertama di kelas, sedangkan Geighi mendapatkan pringkat kedua.                                                     
“Revan, Dika aku ke masjid dulu yah. Kalo kamu mau ke kantin, duluan aja. Nada, Nenden. Ayo shalat duha dulu” Kata Geighi. Dan hanya mendapatkan gelengan dari kedua temannya itu. Hati Geighi teriris-iris saat ajakan shalatnya ditolak lalu dia tersenyum kecut menanggapi sikap Nada dan Nenden.                                                                                                  
“Yaudah. Gue ke kantin duluan. Lo hati-hati ya Ghi” Geighi hanya tersenyum dan menggangguk. Kemudian dia berlari meninggalkan teman-temannya menuju masjid. Revan memperhatikan ujung kerudung putih milik Geighi yang tertiup angin. Revan menghela nafas panjang. Sepertinya sulit baginya untuk bisa dekat dengan Geighi. Ada jarak  tidak kasat mata yang menjulang tinggi diantara keduannya.
          Di kelas sebelas ini, Revan terpilih menjadi ketua OSIS SMA Nusa Cendekia. Sebenarnya dia tidak berniat menerima tawaran Marchel, mantan ketua OSIS terdahulu  untuk menjadi kandidat ketua OSIS. Namun, karena dorongan dari Geighi, akhirnya dia menyetujui tawaran tersebut. Revan dan Geighi sangat akrab, mereka sering belajar bersama di rumah Geighi. Sehingga, keluarga Geighi sangat mengenal Revan. Apalagi saat mengetahui bahwa Revan sering kerumahnya untuk mempelajari islam dari Rio. Maka dari itu, kedekatan mereka menjadi bahan gosip di SMA Nusa Cendekia. Dan membuat Geighi merasa tidak nyaman dengan rumor-rumor tersebut.
          Karena hal itu, Geighi mulai berfikir untuk menjauhi Revan. Dia takut kepada Allah akan perasaan yang seharusnya tidak ada dalam benaknya itu. Hingga Revan sadar dengan perubahan Geighi kepadanya.                                                                                                                                
“Ghi, lo marah sama gue? Tapi bukannya di agama lo, sifat pemarah itu gak baik?”                 
“aku gak marah van” jawab Geighi sambil menunduk.                                                                      
“terus kenapa lo gak bawain nasi goreng buatan mama lo lagi Ghi? Terus kenapa lo sekarang sering ngehindarin gue Ghi?” Revan terus bertanya. Sedangkan Geighi hanya terdiam, karena dia tidak ingin berbohong.                                                                           
“yaudah deh, gue minta maaf. Kalo gue salah.” Kata Revan memasang mimik muka sedih yang dibuat-buat.                                                                               
“Revan. Jangan peduliin aku.” Diam. Semenjak kejadian itu, tidak ada lagi obrolan diantara keduanya.
          Buk....buk....buk.... suara pantulan bola basket terdengar remang-remang akibat hujan yang turun pagi ini. Dan membuat Geighi penasaran siapa yang memainkan bola basket saat hujan. Geighi kemudian mengintip dari jendela kamarnya Revan? gumam Geighi yang langsung mengambil krudung di atas kursi lalu dipakainya.                
“REVAN! JANGAN HUJAN-HUJANAN KAMU BISA SAKIT!” Teriak Geighi, berharap suaranya dapat mengalahkan derasnya suara air hujan.                                                                
“TENANG AIR HUJAN ENGGAK BAKAL BIKIN GUE SAKIT!”  jawab Revan berteriak “Namun, air hujan inilah yang bikin sakit hati gue berkurang” lanjutnya pelan. Geighi langsung berlari menuju ke dapur untuk menemui kakaknya.
 “Kak Rio kok izinin Revan hujan-hujanan sih?” omel Geighi ke kakaknya.                        
“kakak udah larang. Sebelum Mama papa pergi juga udah dilarang, tapi dia tetep ngeyel. Kayanya dia ada masalah. Habisnya semalem pas dia dateng ke sini mukanya keruh banget. Kaya sungai ciliwung. Udah sekitar dua jam dia hujan-hujanan Ghi” Dua jam? Hujan-hujanan? Revan bener-bener gila. Gumam Geigi yang  langsung berlari menuju Revan.
 “Revan berhenti!” Teriak Geighi.                                                                                                    
“udah Ghi, jangan peduliin gue.” Geighi merasa bersalah, kalimat itu adalah kalimat yang pernah dia ucapkan kepada Revan. Tanpa memperdulikan hujan, Geighi mendekati Revan,
 “Maafin aku kalau aku pernah bikin kamu sakit hati, Van.” Ucap Gighi.                           
“Aku Cinta kamu, Geisha Ghania Izora” kata Revan dengan nada sendu.
 DEG... Tubuh Geighi otomatis mundur beberapa langkah. Matanya mengerjap bingung. Apa yang barusan dia dengar?
Revan mencintainya?
 Geighi mengatakan maaf, namun kenapa Revan membalasnya dengan kata cinta?      
          Semenjak kejadian itu hubungan Geighi dan Revan sedikit merenggang. Namun karena Revan mengatakan bahwa dia akan melupakan Geighi, maka Geighi mulai bersikap seperti semula. Walaupun kadang kalimat aku cinta kamu masih membuat Geighi bergidik ngeri dan takut.                                                                                                               
“Ghi, bilangin ke Revan. liqo’ hari ini jam tiga bukan jam lima.” Kata Rio,                                     
“Revan masih suka ikut liqo’  kak? Gimana perkembangan dia kak?” tanya Geighi.              
“lumayan banyak. Otak Revan encer banget. Dia cepet nangkep kalo dijelasin tentang agama kita. Bahkan dia sudah hafal berberapa hadis. Tapi sayangnya dia masih ragu dengan hatinya.” Jelas Rio. Geighi menghela nafas panjang, dan wajahnya langsung mendung.
 “Udah Ghi, enggak papa. Kuasa Allah itu hebat. Doakan saja hati Revan terbuka. Temen kakak ada yang ikut liqo’ selama lima tahun dia baru mau jadi mualaf” jelas Rio.  
“ll...lima tahun kak?” tanya Gighi gugup.                                                                                                                                  
“Iya lima tahun. Doakan yang terbaik buat dia Ghi. Sekarang kamu jangan nutupin sesuatu dari kakak, Kamu suka kan sama Revan?” tubuh Geighi membeku, tangisnya pecah. Dia sangat takut dengan perasaan itu.                                                                                                         
“udah gak papa Ghi, wajar anak seusiamu merasakan hal itu. Tapi, tolong kendalikan perasaan itu, hingga tidak ada satupun setan yang mengetahui rasa itu. Cukup minta dia kepada Allah disetiap do’a mu.” Geighi hanya mengangguk di tengah isak tangisnya.
          Revan duduk melamun memandang kertas ulangan sejarah yang terdapat angka 4 di kertas bagian kanan pojok atas. Sedangkan Geighi tidak berhenti menyebut istighfar karena nilai matematikanya terlihat memprihatinkan.                                                                      
“Revannnn. Lihat nilai matematikaku yang butuh pertolongan.” Adu Geighi sambil menunjukan kertas ulangan matematikanya yang mendapatkan nilai 6. Revan diam saja, matanya hanya melirik kertas ulangan Geighi dan kembali melamun karena nilainya.   
“Revan, kok kamu diem aja sih? Nilai aku jelek.” Rajuk Geighi, kemudian dia melirik lembar kertas ulangan matematika milik Revan dan berdecak kagum.                                    
“Revan, nilai matematikamu sempurna. Lihat deh nilaiku Van.”                                                  
“Ghi, nilai sejarah gue lebih memprihatinkan daripada nilai matematika lo.” Kata Revan sambil menunjukan nilai sejarahnya. Geighi tertawa geli, baru kali ini Revan mendapatkan nilai di bawah 8. Hal ini dikarenakan minggu lalu Revan tidak masuk kelas karena harus mengurus kegiatan OSIS yang tidak dapat ditunda.                                                                                    
“tapi aku Cuma dapet nilai 6 Van. Dan itu sangat memprihatinkan,” adu Geighi lesu. 
“Ghi, sekarang gue tanya ke elo. Nilai matematika berapa?”                                                                       “enam.”  
“nilai sejarah gue berapa?”                                                                                                                        “empat.”                                                                                                                                                                “enam sama empat besaran mana?”                                                                                                             “enam”                                                                                                                                                            
“yang dapet nilai enam siapa?”                            “aku”                                                                                                                                                                  
“yang dapet nilai empat siapa?”                                                                                                            
“kamu.” Jawab Geighi sambil tersenyum melihat raut muka Revan yang memelas.          
“jadi di sini, gue yang patut dikasihani bukan elo, Ghi.”  Kata Revan, kemudian menelungkupkan kepalanya.
Revan mendudukan tubuhnya di atas teras masjid. Matanya memandang langit-langit yang dihiasi bulan dan bintang. Materi liqo’ yang baru dia dengarkan tadi, kembali berputar di kepalanya. Tepukan pelan di bahu Revan menyadarkannya dari lamunan.
“Gimana? Setelah mendengar kisah mualaf Dokter Barga lo masih ragu Van?” tanya Candra, satu-satunya orang yang tahu tentang keraguan Revan untuk masuk Islam adalah rasa cintanya kepada Geighi. Ya, Revan ragu masuk islam karena dia merasa kalau keinginannya masuk islam bukan sepenuhnya dia tertarik pada islam namun keinginan itu datang karena dia mencintai Geighi.                                                                                           
“Tidak ada yang salah kalo lo masuk islam karena rasa cinta lo ke Geighi. Yang salah itu kalo lo gak mau belajar mencintai Tuhan yang udah nyiptain hamba-Nya. Gue yakin, bukan rasa cinta lo yang bikin lo ragu. Keraguan yang lo rasain itu berasal dari setan. Selama satu tahun ini, lo terus memperlajari islam bukan karena Geighi, namun karena lo memang tertarik dengan islam. Gue berani bilang ini karena lo gak pernah nunjukin pengetahuan lo tentang islam di depan Geighi. Bukan begitu? Hidayah bukan ditunggu, melainkan dijemput. Gue berharap kita bisa mrnjadi saudara dalam naungan yang sama” Candra berdiri untuk mengumandangkan adzan shalat isya. Sedangkan Revan mengusap wajahnya gusar.                                                                                                                        
          Geighi menghamparkan sajadahnya. Dengan khusyuk dia mulai melaksanakan shalat isya yang disetiap sujudnya dia menyebut nama Revan.                                                    Ya Allah... kau yang maha tau apa yang tersimpan di dalam hatiku. Maaf Ya Allah... Maafkan aku yang telah jatuh cinta padanya. Tumbuhkanlah rasa cinta ini di hatinya. Hilangkanlah keraguan yang menyelimuti hatinya. Bila rasa cinta ini salah, aku mohon tolong hapuslah rasa cinta ini dar hatiku Ya Allah.                                                                           Tangis Geighi pecah. Salahkah yang dia pinta? Dia tersungkur dalam tangisnya. Kenapa dia merasakan cinta yang sedalam ini kepada Revan? Kenapa?                                                  
“Geighi” suara Rio bersahutan dengan suara ketukan pintu. Geighi menyeka sisa-sisa tangisnya, masih menggunakan mukena, dia membuka pintu.                                                   
“sudah pulang? Revan mana?” bukannya menjawab, Rio malah memeluk Geighi, “Ghi”     
“kakak kenapa meluk aku? Revan mana?” Rio mengecup kening Geighi.                                
“selepas shalat isya... selepas shalat isya Revan..Revan telah mengucapkan dua kalimat syahadat, Ghi” tubuh Geighi seketika membeku.                                                                              
“Revan telah menjadi mualaf, Ghi” Geighi terkulai lemas. Kakinya tak mampu berdiri, andai Rio tak memeluknya, dia pasti jatuh tersungkur di lantai. Tangisnya tak mampu dibendung. Beribu kata syukur memenuhi hatinya. Terimakasih Ya Allah. Terimakasih.  
“Assalamualaikum Geighi” Geighi mendongakkan wajahnya, menatap Revan yang baru saja mengucapkan salam padanya.                                                                                                          
Wa..waalaikumsalam,” jawab Geighi disela isak tangisnya. Sungguh dia merasa bahagia.
          Revan melangkahkan kakinya menuju masjid saat shalat isya telah selesai. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Dadanya sesak lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa kering. Dia menyatakan bahwa dia sudah yakin untuk menjadi saudara seiman dengan mereka. Kemudian imam masjid menuntun Revan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang disaksikan jamaah masjid Ar-Rahman. “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” Revan tidak mampu menahan tangisnya. Ia menangis tergugu dalam pelukan Rio. Sesak dan beban yang mengganjal di hatinya langsung sirna dan digantikan oleh perasaan bahagia.
          Di perjalanan pulang, Revan mengusap wajahnya. Dia akan memberi tahu keluarganya karena mereka berhak tau tentang keyakinannya sekarang. Sesampainya di rumah, Revan mengucapkan salam untuk bi Inah, AST di rumahnya. Bi Inah kaget dan tersenyum penuh arti dengan tuan mudanya itu. Revan langsung menuju kamar mama dan papanya sembari membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Diketuklah pintu kamar mamanya,
“Ma, Pa. Revan boleh masuk?” tanya Revan dengan senyuman.                                
“tumben izin dulu. Tentu boleh sayang, sini. Ada apa sayang?” tanya mamanya lembut.
“Ma, Revan sayang mama,” kata Revan sambil memeluk mamanya. Mama dan Papa Revan saling berpandangan. Mengisyaratkan ada apa?.
“Mama tau, Revan sayang mama. Apa ada sesuatu? Bicaralah sayang.” Mama dan Papa Revan tahu kebiasaan anak tunggalnya ini, jika ada yang ingin dia sampaikan atau sesuatu yang dia minta, maka dia akan bersikap sangat manis. Revan mengangguk seraya tersenyum kepada papanya dan menuntun mamanya untuk duduk di sofa.
“Mama duduk yah” Dengan lembut, Revan menyuruh mamanya untuk duduk di atas sofa, sedangkan dia duduk di bawah tepat di dekat kaki mamanya.
“kenapa kamu duduk di bawah?”
“karena Revan ingin menyentuh kaki mama.” Revan tersenyum. Mama Revan menatap putranya dengan pandangan terkejut,
“ka..kamu kee..kenapa?”tanya mamanya dengan suara parau.
“karena surga Revan ada di bawah telapak kaki mama,” ucap Revan, walaupun sekarang mereka berbeda agama. Namun surga Revan tetap berada di bawah telapak kaki mamanya. Dia harus tetap menjaga dan menyayangi mamanya.
“Re..Revan..ka..kamu? ap..apa ka..kamu?” Mama Revan cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Mengerti dengan ucapan mamanya yang patah-patah. Revan menganggukan kepalanya dan tersenyum lembut.
“Maafkan Revan Mahh Pahh.. ini pilihan Revan.” jawab Revan masih dengan senyumannya.
Mama Revan langsung berdiri, dia menatap Revan dengan pandangan kecewa, “sejak kapan? Sejak kapan kamu...” Mama Revan tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, hatinya terasa begitu sesak, seluruh anggota tubuhnya mati rasa. “kenapa kamu melakukan itu Revan?”
          Revan beranjak dari duduknya untuk meraih tangan mamanya. Plak.. Namun yang Revan dapatkan sebuah tamparan di pipi kirinya.
“jangan tinggalin mama Revan. Apa salah mama sama kamu? Kenapa kamu melakukan ini” luruh mama Revan di lantai. Revan memeluk tubuh mamanya yang bergetar.
“Mama enggak ngelakuin salah apapun sama Revan. Revan enggak akan ninggalin mama dalam keadaan apapun. Walaupun mama yang nyuruh Revan pergi, Revan gak akan pergi dari mama. Revan selalu sayang sama” kata Revan yang diakhiri dengan kecupan manis di puncuk kepala mamanya.
          Revan berdiri untuk menghampiri papanya. belum sempat Revan berbicara, Herland, menyeret Revan keluar dari kamarnya. Dengan suara tertatih, Revan berkali-kali mengucapkan kata maaf untuk papanya. Revan juga mendapatkan satu tamparan lagi dari papanya. Dengan sesenggukan Mama Revan terus memohon pada Revan “Mama mohon Revan, kembalilah. Ke..kembali. Jangan khianati Mama Revan!” Mendengar permohonan Mamanya, Revan hanya tersenyum dan menggeleng kecil sampai pintu kamar dibanting keras olah papanya.
          Ketua OSIS SMA Nusa Cendekia, tampan, cerdas dan pintar. Empat kategori bergensi disandang langsung oleh seorang Revan. Maka tak heran, kabar sekecil apapun tentang Revan dalam hitungan detik akan menyebar luas. Dari kalangan guru-guru, penjaga sekolah, bahkan langganan siomay milik Geighi pun tahu jika Revan telah masuk islam saat banyak orang yang melihat Revan mengikuti jamaah shalat dzuhur di sekolahnya. Melihat kejadian itu, banyak murid yang mengucapkan alhamdulilah. Bahkan siswi-siswi SMA Nuski pun banyak yang mengharapkan Revan sebagai imamnya. Namun lain halnya dengan Dika, sahabat Revan dari SMP. Saat Revan tiba di kelas, Revan langsung ditonjok oleh Dika.
“sialan lo Van!” emosi Dika meluap. Tak henti-henti menonjok Revan, namun Revan tak ingin melawan temannya ini sampai ketua kelas memisahkan mereka.
“lo kenapa Dik?” tanya Revan baik-baik.
“lo yang kenapa Van?! Cuma karena cewek sok suci itu, lo sampe ngehianati kami! Lo buat Mama lo nangis, lo buat kelurga lo kecewa Van!” bentak Dika ” Cuma karena lo jatuh cinta sama cewek sialan itu, lo sampe pindah keyakinan Van? Van, dia gak peduli tentang perasaan lo ke dia. Lo pinter, tapi lo begok.” Lanjut Dika pelan, tepat di samping telinga Revan. Kemudian dia meludah di hadapan Revan dan pergi dengan memicingkan mata tanda menghina Revan.
          Revan kecewa, dia kira Dika satu-satunya sahabatnya akan mendukung keputusannya. Namun sebaliknya, dia malah sangat membenci Revan. Tak jauh dari Revan duduk, terdengar Nada dan Nenden berlari mencarinya. 
“Van! Gawat. Geighi di tarik sama Dika ke aula. Kita ngikutin sampe aula. Tapi Dika melototi kami sampe matanya mau keluar. Ngeri. Kek Limbad Van!” adu Nenden, karena Nada sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tanpa babibu, Revan langsung berlari menuju aula sekolahan, yang jaraknya cukup memakan waktu lama. Karena gedung sekolah Revan sangat luas.
“heh lo! Lo jampi-jampi apa si Revan, sampe dia ngehianati kita?! Ini gara-gara lo! Andai Revan gak jatuh cinta sama lo, dia bakal ngehianatin kita!” bentak Dika tepat di hadapan Geighi yang menunduk ketakutan. Dika menyeramkan saat marah, padahal baru kemarin dia bercanda gurau dengan Dika, namun sekarang dia berubah jadi monster yang siap menerkam. Sungguh Allah pandai membolak-balikan hati manusia.
“aku gak ngapa-ngapain Revan. Keputusan Revan itu karena hidayah dari Allah. Bukan karena aku, apalagi jampi-jampi.” Jawab Geighi menahan rasa takutnya. Dika menonjok dinding tepat di sebelah Geighi untuk meluapkan emosinya sampai buku-buku tangannya memerah, sedangkan Geighi terkejut bukan main. Ingin sekali dia encaci maki Geighi, namun lidahnya kelu tenggorokannya tercekat. “Arrgghhhh” raung Dika.
“Masih ada yang mau kamu tanyakan?”tanya Geighi kemudian Dika menunduk dan duduk lemas di lantai.
“kalau begitu, aku keluar. Bentar lagi bel masuk” kata Geighi sambil pergi dari aula.
“Ghi, lo gapapa? Dika ngapain lo?” tanya Revan saat baru mau menaiki tangga aula.
“aku gapapa Van dia Cuma tanya alesan kamu mualaf. Aku jawab karena Allah. Benar kan Van, kamu mualaf karena Allah?” tanya Geighi yang mendapatkan anggukan serta senyuman yang manis dari Revan, jika kebanyakan wanita akan terpukau. Namun berbanding balik dengan Geighi yang langsung beristighfar.
          Sudah 2 bulan Revan di usir dari rumahnya dia tinggal di apartemen milik Nino, kakak sepupu Revan, satu-satunya keluarga Herland yang masih menyayanginya. Revan  sering mengirim paket bunga mawar kesukaan Mamanya dan mengingatkan Mamanya untuk menjaga kesehatannya. hal itu Revan lakukan agar Mamanya masih bisa merasakan sayang Revan. Revan benar-benar dikucilkan oleh keluarganya. Semenjak kejadian itu, Revan juga bersikap dingin kepada Geighi dan teman-teman lainnya. Di waktu jam kosong atau istirahat, Revan hanya menghabiskan waktunya di masjid dan menghafalkan ayat suci Al Quran. Dia memang sudah mengambil keputusan itu sebelum mualaf, dia dikucilkan keluarganya, maka dia akan mengucilkan diri dari lingkungan sekitar.
          Geighi juga terdiam pasrah saat melihat nilai matematikanya, tidak akan mengadu pada Revan, karena Geighi tau, Revan menjauhinya. Jarak diantara keduanya sudah sangat jauh. Revan yang sudah mengenal agama itupun tidak berani mendekati Geighi jika tanpa alasan yang akurat, bahkan saat sudah ada alasan yang akurat, Revan pun masih menghindarinya. Berbanding balik dengan dulu, dulu Revan gencar sekali mendekati Geighi, namun sekarang tidak!. Satu hal yang Geighi tidak tahu, perassan Revan kepadanya masih sama.
          “kok adik kakak murung?” tanya Rio saat Geighi membaca novel, namun pandangannya kosong. Lebih tepatnya melamun.
“karena Revan ya?” Tepat! Geighi langsung menengok Rio dan mengangguk lesu.
“udah sewajarnya kalian jaga jarak, dulu kalia terlalu dekat.”
“kakak tau kenapa Revan jauhin aku?” tanya Geighi
“tidak banyak. Nanti biar Revan sendiri yang menjelaskannya” Jawab Rio. Geighi masih ingin terus bertanya, namun mengingat sifat kakaknya yang amanah, Geighi urungkan niatnya itu.
          Revan tak pernah berhenti memohon kepada Allah untuk membuka hati kedua orang tuanya, dan tak lupa dia menyebut nama Geighi dalam doanya. Setelah melaksanakan shalat, Revan duduk menyendiri di kantin. Dia memandangi kartu peserta olimpiade matematika yang bertuliskan 08, mengingatkan tentang olimpiade yang selalu ia ikuti. Namun tahun ini berbeda, tidak ada Geighi di sampingnya apalagi Mama dan Papanya. Revan menghela nafas panjang, berharap dia berhasil memenangkan olimpiade ini lagi walau tanpa orang yang ia kasihi.
          Revan terkejut bukan main, keringat dingin menyucur di dahinya. Berharap semuanya akan baik-baik aja, Papanya datang di lokasi Revan lomba dengan raut muka yang tidak dapat dibaca olehnya. Sedangkan Mama Revan datang dengan mata sembab. Apa yang terjadi ya Allah? Tanya Revan dalam hati. Papa Revan berjalan setengah lari untuk menghampiri Revan, Revan menunduk sedikit takut dan buk... Revan terkejut bukan main, papanya, papanya memeluknya. Revan rindu pelukan dari papanya.
“Maafin papa sayang, maafin papa yang udah jahat sama kamu” Revan menangus dalam pelukan papanya, dia bersyukur kepada Allah telah kembalikan keluarganya.
“maafin papa yang enggak ngehargai keputusan kamu, papa sayang kamu. Kembali ke rumah ya sayang” ajak papanya sembari menghapus sisa-sisa tangis Revan, belum sempat Revan menjawab, mama sudah membawanya ke dalam pelukannya. Sungguh Revan sangat berterimakasih kepada Allah, apa yang dikatakan Geighi benar saat Revan baru diusir oleh papanya Revan sabar ya. Allah tidak akan menguji umatnya melewati batas kemampuan umat tersebut. Pasti kamu bisa Revan. Saat mamanya mengurai pelukannya, Revan tak sengaja melihat Geighi sedang berjalan ke arahnya dengan tersenyum. Revan berpamitan ke orang tuanya untuk menghampiri Geighi sebentar.
“Geisha, terimakasih ya buat semuanya.” Geighi tersentak, Revan memanggilnya dengan sebutan Geisha. Akhirnya Geighi hanya tersenyum kaku.
“Geisha Ghania, gue minta ke elo buat jaga diri lo sampai gue dateng buat jemput lo suatu saat nanti.” Lanjut Revan dengan nada serius. Jantung Geighi bergetar hebat, ia tau apa maksud Revan. Geighi lantas mengangguk dan tersenyum manis, sangat manis.
          Revan dan Geighi hanya saling mendoakan satu sama lain. Saling meminta kepada Rabb-Nya dalam waktu sepertiga malamnya hingga mereka benar-benar dipertemukan oleh ikatan suci pernikahan.
Contoh cerpen yang bertemakan agama. terima kasih sudah membaca semoga bermanfaat...
happy weekend:)

MITOS ATAU FAKTA ???


Para readers pasti super kepo banget ni, apalagi sama mitos-mitos yang banyak beredar. Nah... pasti bingung mau percaya apa gak ya... mending langsung cek aja bener apa gak....
MITOS 1: Sarapan buah bikin badan lemas. 

Faktanya, justru bagus saat anda mengkonsumsi buah di pagi hari. Saat itulah tubuh sedang mengalami fase pembersihan pencernaan, sehingga anda justru tidak boleh makan yang berat-berat dan dianjurkan untuk makan buah-buahan seperti pisang, apel, atau wortel. Buah-buahan tersebut mengandung banyak serat dan fruktosa, yaitu gula asli buah yang berguna untuk menambah tenaga. Jadi, tubuh akan menjadi kuat meski hanya makan buah. Akan lebih bagus kalau ditambah dengan putih telur yang mengandung protein tinggi.
MITOS 2: Menghindari salah satu waktu makan adalah cara yang tepat untuk menurunkan berat badan. 
Faktanya, tubuh kita membutuhkan kalori dan nutrisi seimbang agar dapat berfungsi dengan baik. Jika tidak makan di salah satu waktu makan, biasanya kita justru ingin makan makanan kecil atau makan lebih banyak di waktu makan berikutnya. Sudah banyak penelitian menunjukan, bahwa orang yang tidak sarapan lebih banyak mengalami masalah kegemukan daripada yang melakukan sarapan secara sehat.

MITOS 3: Dengan rajin berolahraga, tidak perlu khawatir kolesterol darah. 
Faktanya, selain olahraga masih banyak faktor lain yang mempengaruhi kadar kolesterol darah seperti makanan, berat badan, kebiasaan merokok dan keturunan. Olahraga membantu mengontrol kadar kolesterol darah dengan cara meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Namun dengan olahraga saja belum tentu kadar kolesterol darah akan terjaga dengan baik.
MITOS 4: Minum air es membuat badan jadi gemuk.
Faktanya, air tidak akan bisa membuat tubuh menjadi gemuk karena air tidak mengandung kalori sama sekali. Justru yang bisa membuat badan jadi gemuk adalah air es yang manis karena mengandung gula, misalnya es buah yang dicampur sirup. Jadi kapanpun anda ingin minum air es, ya boleh-boleh saja sepanjang tidak mempunyai alergi dengan es batu atau mungkin sedang sakit batuk atau pilek.
MITOS 5: Obat tidak baik diminum bersama susu. 
Faktanya, tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama susu. Ada beberapa obat, terutama yang bersifat mengiritasi lambung, justru dianjurkan untuk diminum bersama susu atau pada waktu makan. Gunanya agar susu atau makanan tersebut dapat mengurangi efek iritasi lambung dari obat yang dikonsumsi. Walaupun susu atau makanan akan sedikit mengurangi daya kerja obat tersebut, namun efek perlindungannya terhadap iritasi lambung lebih besar. Obat-obatan yang sebaiknya TIDAK dikonsumsi bersama susu adalah antibiotik, karena penyerapan zat-zat aktifnya dapat dihambat. Oleh karena itu, susu sebaiknya diminum sekitar 2 jam setelah atau sebelum minum obat antibiotika.