Friday, 16 November 2018

Cerpen bertemakan agama


Karya: Dilla Vrisca Ivanti
Hujan




          Terlalu pagi untuk mengawali semuanya. Jam masih menunjukan angka lima, namun Geighi sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Pita-pita kecil berwarna merah yang telah dibentuk, tertempel apik di jilbab putihnya. kalung yang terbuat dari puluhan permen dari rasa dan merk yang berbeda menggantung di leher, tas kardus yang terbungkus kertas kado bertengger di bahu dan yang terakhir adalah sepatu dan kaos kaki yang berbeda warna telah terpasang di kakinya.
          “Biar kak Rio yang anter kamu, liat tuh di luar masih gelep. Mana kondisi hujan.” Sang mama tercinta tak tega melihat putri semata wayangnya pergi sendiri ke sekolah di waktu matahari saja belum berganti tugas dengan bulan.
 “Enggak boleh. Kata kakak kelas harus pergi sendiri. Mulai belajar mandiri. Masa udah SMA masih dianterin.”
 “Biar kakak anter aja dek. Toh kakak kelas kamu enggak akan tahu.” Bujukan itu dilontarkan saat sang adik bersikeras menolak.                                                                              
“kakak kelas Geighi memang enggak akan tahu, tapi Allah Maha Tahu.” Mamanya langsung diam, tidak merayu lagi saat Geighi menyebutkan tentang Allah.                              
“Geighi berangkat dulu. Assalamualaikum.” Geighi mencium pipi dan punggung tangan mamanya, dan tak lupa mencium punggung tangan kakaknya.                                                  
“beneran kamu gak mau dianterin, nanti kalau di jalan ada yang ngira kamu gila. Terus kamu diangkut ke rumah sakit jiwa gimana?” Rio masih terus merayu adik tercintanya.  
“ihh kak Rio, do’anya jelek,” Geighi melotot marah. Mencubit kesal tangan kakaknya sambil berlalu pergi ke sekolah.
          Geisha Ghania Izora, biasa  dipanggil Geighi. Lahir di Bogor 27 Januari 2002. Ibunya seorang dokter disalah satu rumah sakit di Bogor, sedangkan sang ayah adalah seorang TNI angkatan darat. Memiliki seorang kakak yang umurnya empat tahun di atasnya, kini kakaknya tercatat sebagai mahasiswa di IPB,falkutas Ekologi Manusia. Geighi memiliki ciri fisik yang enak dipandang. Tingginya 160 cm dengan berat 50 kg. Kulitnya putih bersih khas wanita sunda dan memiliki dua lesung pipit yang sangat manis.
          Geighi turun dari angkot tepat di depan gerbang sekolah barunya, SMA Nusa Cendekia dan langsung disambut oleh kakak OSIS,                                                                                    
“Selamat subuh menjelang pagi” sapa kakak OSIS yang bername tag Farah Putri.                                                         
“Selamat pagi kak.” Jawab Geighi dengan senyum manisnya.                                                       
“jangan lupa isi lembar absen yang ada atas meja guru ya.” Kata kakak kelas itu.
Geighi mengangguk patuh, lalu berpamitan untuk pergi ke kelasnya. Sesampainya di kelas, Geighi mengisi absen seperti yang diperintahkan kakak kelasnya tadi. Assalamualaikum Ucap Geighi saat memasuki kelas  dia tertidur? Tapi kenapa dia belum menulis namanya di absen? Gumam Geighi, kemudian dia mengisi absen di kolom kedua, karena kolom pertama bukan tempatnya, namun tempat untuk orang yang kini tengah tertidur di bangku paling belakang. Kemudian Geighi duduk di bangku paling depan dan melanjutkan hafalan Al-Qur’an yang sempat tertunda.
          Jam tujuh tepat, dua orang pengurus OSIS memasuki kelas dan memeriksa lembar absen.
 “ada yang belum mengisi absen?” hening  
“Yang belum mengisi absen, maju ke depan!” suara bising mendominasi kelas, mereka saling bertatapan satu sama lain.              
“baiklah, saya panggil satu persatu, yang dipanggil namanya harap angkat tangan.” Seisi kelas kompak mengangguk.                                                                                                                   
“...........”  satu persatu nama sudah disebutkan, kakak kelas bername tag Yazid Al Farruk melangkah menuju bangku paling belakang.                                                                                 
“kamu maju ke depan!” Perintah itu diberikan kepada seorang pria yang sibuk menguap. Tanpa melawan, si murid maju ke depan. Saat dia berdiri di depan kelas, beberapa murid perempuan menahan nafas, mereka tidak menyangka kalau yang sedari tadi menelungkupkan kepalanya adalah Revan Narendra Herland. Pemenang Olimpiade Matematika Tingkat SMP di Beijing dan dia mendapatkan nilai Ujian Nasional tertinggi tingkat SMP se-Indonesia.  gila, aslinya lebih ganteng dari yang gue lihat di koran. celetuk berberapa cewek yang terkagum-kagum melihat Revan.
          Revan Narendra Herland, lahir di Jakarta 11 Januari 2002. Anak tunggal dari keluarga Herland. Ayahnya seorang dosen di salah satu Universitas terkemuka di Jakarta, sedangkan ibunya seorang mantan model. Ciri fisik Revan, dapat dikatakan nyaris sempurna, perpaduan darah Jawa dan darah Jerman membuat Revan menjadi rupawan. Tingginya 170 cm, badannya tegap, alisnya hitam tebal, matanya cokelat terang, hidungnya mancung, tulang rahangnya tegas, kulitnya putih pucat. Tapi jangan bayangkan vampire di film Twilight, karena kulit Revan tidak sepucat itu.                                  
          Masa PLS sudah selesai, sekarang mereka sudah resmi menjadi murid SMA Nusa Cendekia. Lantas mereka sangat bahagia, karena terlepas dari kakak OSIS yang terkenal galak dalam masa PLS. Namun, hari ini merupakan hari yang buruk untuk Geighi, karena dia datang kesiangan sehingga tidak mendapatkan bangku yang strategis. Al hasil, Geighi tidak ada pilihan lagi, dia harus duduk sebangku dengan Revan di bangku paling depan. Yang berjarak satu langkah dari meja guru, dan akan dijadikan sasaran empuk oleh perhatian guru.
          Waktu berlalu begitu cepat, tak dirasa mereka sudah satu tahun bersekolah di Nusa Cendekia, dan selama dua semester ini. Revan mendapatkan peringkat pertama di kelas, sedangkan Geighi mendapatkan pringkat kedua.                                                     
“Revan, Dika aku ke masjid dulu yah. Kalo kamu mau ke kantin, duluan aja. Nada, Nenden. Ayo shalat duha dulu” Kata Geighi. Dan hanya mendapatkan gelengan dari kedua temannya itu. Hati Geighi teriris-iris saat ajakan shalatnya ditolak lalu dia tersenyum kecut menanggapi sikap Nada dan Nenden.                                                                                                  
“Yaudah. Gue ke kantin duluan. Lo hati-hati ya Ghi” Geighi hanya tersenyum dan menggangguk. Kemudian dia berlari meninggalkan teman-temannya menuju masjid. Revan memperhatikan ujung kerudung putih milik Geighi yang tertiup angin. Revan menghela nafas panjang. Sepertinya sulit baginya untuk bisa dekat dengan Geighi. Ada jarak  tidak kasat mata yang menjulang tinggi diantara keduannya.
          Di kelas sebelas ini, Revan terpilih menjadi ketua OSIS SMA Nusa Cendekia. Sebenarnya dia tidak berniat menerima tawaran Marchel, mantan ketua OSIS terdahulu  untuk menjadi kandidat ketua OSIS. Namun, karena dorongan dari Geighi, akhirnya dia menyetujui tawaran tersebut. Revan dan Geighi sangat akrab, mereka sering belajar bersama di rumah Geighi. Sehingga, keluarga Geighi sangat mengenal Revan. Apalagi saat mengetahui bahwa Revan sering kerumahnya untuk mempelajari islam dari Rio. Maka dari itu, kedekatan mereka menjadi bahan gosip di SMA Nusa Cendekia. Dan membuat Geighi merasa tidak nyaman dengan rumor-rumor tersebut.
          Karena hal itu, Geighi mulai berfikir untuk menjauhi Revan. Dia takut kepada Allah akan perasaan yang seharusnya tidak ada dalam benaknya itu. Hingga Revan sadar dengan perubahan Geighi kepadanya.                                                                                                                                
“Ghi, lo marah sama gue? Tapi bukannya di agama lo, sifat pemarah itu gak baik?”                 
“aku gak marah van” jawab Geighi sambil menunduk.                                                                      
“terus kenapa lo gak bawain nasi goreng buatan mama lo lagi Ghi? Terus kenapa lo sekarang sering ngehindarin gue Ghi?” Revan terus bertanya. Sedangkan Geighi hanya terdiam, karena dia tidak ingin berbohong.                                                                           
“yaudah deh, gue minta maaf. Kalo gue salah.” Kata Revan memasang mimik muka sedih yang dibuat-buat.                                                                               
“Revan. Jangan peduliin aku.” Diam. Semenjak kejadian itu, tidak ada lagi obrolan diantara keduanya.
          Buk....buk....buk.... suara pantulan bola basket terdengar remang-remang akibat hujan yang turun pagi ini. Dan membuat Geighi penasaran siapa yang memainkan bola basket saat hujan. Geighi kemudian mengintip dari jendela kamarnya Revan? gumam Geighi yang langsung mengambil krudung di atas kursi lalu dipakainya.                
“REVAN! JANGAN HUJAN-HUJANAN KAMU BISA SAKIT!” Teriak Geighi, berharap suaranya dapat mengalahkan derasnya suara air hujan.                                                                
“TENANG AIR HUJAN ENGGAK BAKAL BIKIN GUE SAKIT!”  jawab Revan berteriak “Namun, air hujan inilah yang bikin sakit hati gue berkurang” lanjutnya pelan. Geighi langsung berlari menuju ke dapur untuk menemui kakaknya.
 “Kak Rio kok izinin Revan hujan-hujanan sih?” omel Geighi ke kakaknya.                        
“kakak udah larang. Sebelum Mama papa pergi juga udah dilarang, tapi dia tetep ngeyel. Kayanya dia ada masalah. Habisnya semalem pas dia dateng ke sini mukanya keruh banget. Kaya sungai ciliwung. Udah sekitar dua jam dia hujan-hujanan Ghi” Dua jam? Hujan-hujanan? Revan bener-bener gila. Gumam Geigi yang  langsung berlari menuju Revan.
 “Revan berhenti!” Teriak Geighi.                                                                                                    
“udah Ghi, jangan peduliin gue.” Geighi merasa bersalah, kalimat itu adalah kalimat yang pernah dia ucapkan kepada Revan. Tanpa memperdulikan hujan, Geighi mendekati Revan,
 “Maafin aku kalau aku pernah bikin kamu sakit hati, Van.” Ucap Gighi.                           
“Aku Cinta kamu, Geisha Ghania Izora” kata Revan dengan nada sendu.
 DEG... Tubuh Geighi otomatis mundur beberapa langkah. Matanya mengerjap bingung. Apa yang barusan dia dengar?
Revan mencintainya?
 Geighi mengatakan maaf, namun kenapa Revan membalasnya dengan kata cinta?      
          Semenjak kejadian itu hubungan Geighi dan Revan sedikit merenggang. Namun karena Revan mengatakan bahwa dia akan melupakan Geighi, maka Geighi mulai bersikap seperti semula. Walaupun kadang kalimat aku cinta kamu masih membuat Geighi bergidik ngeri dan takut.                                                                                                               
“Ghi, bilangin ke Revan. liqo’ hari ini jam tiga bukan jam lima.” Kata Rio,                                     
“Revan masih suka ikut liqo’  kak? Gimana perkembangan dia kak?” tanya Geighi.              
“lumayan banyak. Otak Revan encer banget. Dia cepet nangkep kalo dijelasin tentang agama kita. Bahkan dia sudah hafal berberapa hadis. Tapi sayangnya dia masih ragu dengan hatinya.” Jelas Rio. Geighi menghela nafas panjang, dan wajahnya langsung mendung.
 “Udah Ghi, enggak papa. Kuasa Allah itu hebat. Doakan saja hati Revan terbuka. Temen kakak ada yang ikut liqo’ selama lima tahun dia baru mau jadi mualaf” jelas Rio.  
“ll...lima tahun kak?” tanya Gighi gugup.                                                                                                                                  
“Iya lima tahun. Doakan yang terbaik buat dia Ghi. Sekarang kamu jangan nutupin sesuatu dari kakak, Kamu suka kan sama Revan?” tubuh Geighi membeku, tangisnya pecah. Dia sangat takut dengan perasaan itu.                                                                                                         
“udah gak papa Ghi, wajar anak seusiamu merasakan hal itu. Tapi, tolong kendalikan perasaan itu, hingga tidak ada satupun setan yang mengetahui rasa itu. Cukup minta dia kepada Allah disetiap do’a mu.” Geighi hanya mengangguk di tengah isak tangisnya.
          Revan duduk melamun memandang kertas ulangan sejarah yang terdapat angka 4 di kertas bagian kanan pojok atas. Sedangkan Geighi tidak berhenti menyebut istighfar karena nilai matematikanya terlihat memprihatinkan.                                                                      
“Revannnn. Lihat nilai matematikaku yang butuh pertolongan.” Adu Geighi sambil menunjukan kertas ulangan matematikanya yang mendapatkan nilai 6. Revan diam saja, matanya hanya melirik kertas ulangan Geighi dan kembali melamun karena nilainya.   
“Revan, kok kamu diem aja sih? Nilai aku jelek.” Rajuk Geighi, kemudian dia melirik lembar kertas ulangan matematika milik Revan dan berdecak kagum.                                    
“Revan, nilai matematikamu sempurna. Lihat deh nilaiku Van.”                                                  
“Ghi, nilai sejarah gue lebih memprihatinkan daripada nilai matematika lo.” Kata Revan sambil menunjukan nilai sejarahnya. Geighi tertawa geli, baru kali ini Revan mendapatkan nilai di bawah 8. Hal ini dikarenakan minggu lalu Revan tidak masuk kelas karena harus mengurus kegiatan OSIS yang tidak dapat ditunda.                                                                                    
“tapi aku Cuma dapet nilai 6 Van. Dan itu sangat memprihatinkan,” adu Geighi lesu. 
“Ghi, sekarang gue tanya ke elo. Nilai matematika berapa?”                                                                       “enam.”  
“nilai sejarah gue berapa?”                                                                                                                        “empat.”                                                                                                                                                                “enam sama empat besaran mana?”                                                                                                             “enam”                                                                                                                                                            
“yang dapet nilai enam siapa?”                            “aku”                                                                                                                                                                  
“yang dapet nilai empat siapa?”                                                                                                            
“kamu.” Jawab Geighi sambil tersenyum melihat raut muka Revan yang memelas.          
“jadi di sini, gue yang patut dikasihani bukan elo, Ghi.”  Kata Revan, kemudian menelungkupkan kepalanya.
Revan mendudukan tubuhnya di atas teras masjid. Matanya memandang langit-langit yang dihiasi bulan dan bintang. Materi liqo’ yang baru dia dengarkan tadi, kembali berputar di kepalanya. Tepukan pelan di bahu Revan menyadarkannya dari lamunan.
“Gimana? Setelah mendengar kisah mualaf Dokter Barga lo masih ragu Van?” tanya Candra, satu-satunya orang yang tahu tentang keraguan Revan untuk masuk Islam adalah rasa cintanya kepada Geighi. Ya, Revan ragu masuk islam karena dia merasa kalau keinginannya masuk islam bukan sepenuhnya dia tertarik pada islam namun keinginan itu datang karena dia mencintai Geighi.                                                                                           
“Tidak ada yang salah kalo lo masuk islam karena rasa cinta lo ke Geighi. Yang salah itu kalo lo gak mau belajar mencintai Tuhan yang udah nyiptain hamba-Nya. Gue yakin, bukan rasa cinta lo yang bikin lo ragu. Keraguan yang lo rasain itu berasal dari setan. Selama satu tahun ini, lo terus memperlajari islam bukan karena Geighi, namun karena lo memang tertarik dengan islam. Gue berani bilang ini karena lo gak pernah nunjukin pengetahuan lo tentang islam di depan Geighi. Bukan begitu? Hidayah bukan ditunggu, melainkan dijemput. Gue berharap kita bisa mrnjadi saudara dalam naungan yang sama” Candra berdiri untuk mengumandangkan adzan shalat isya. Sedangkan Revan mengusap wajahnya gusar.                                                                                                                        
          Geighi menghamparkan sajadahnya. Dengan khusyuk dia mulai melaksanakan shalat isya yang disetiap sujudnya dia menyebut nama Revan.                                                    Ya Allah... kau yang maha tau apa yang tersimpan di dalam hatiku. Maaf Ya Allah... Maafkan aku yang telah jatuh cinta padanya. Tumbuhkanlah rasa cinta ini di hatinya. Hilangkanlah keraguan yang menyelimuti hatinya. Bila rasa cinta ini salah, aku mohon tolong hapuslah rasa cinta ini dar hatiku Ya Allah.                                                                           Tangis Geighi pecah. Salahkah yang dia pinta? Dia tersungkur dalam tangisnya. Kenapa dia merasakan cinta yang sedalam ini kepada Revan? Kenapa?                                                  
“Geighi” suara Rio bersahutan dengan suara ketukan pintu. Geighi menyeka sisa-sisa tangisnya, masih menggunakan mukena, dia membuka pintu.                                                   
“sudah pulang? Revan mana?” bukannya menjawab, Rio malah memeluk Geighi, “Ghi”     
“kakak kenapa meluk aku? Revan mana?” Rio mengecup kening Geighi.                                
“selepas shalat isya... selepas shalat isya Revan..Revan telah mengucapkan dua kalimat syahadat, Ghi” tubuh Geighi seketika membeku.                                                                              
“Revan telah menjadi mualaf, Ghi” Geighi terkulai lemas. Kakinya tak mampu berdiri, andai Rio tak memeluknya, dia pasti jatuh tersungkur di lantai. Tangisnya tak mampu dibendung. Beribu kata syukur memenuhi hatinya. Terimakasih Ya Allah. Terimakasih.  
“Assalamualaikum Geighi” Geighi mendongakkan wajahnya, menatap Revan yang baru saja mengucapkan salam padanya.                                                                                                          
Wa..waalaikumsalam,” jawab Geighi disela isak tangisnya. Sungguh dia merasa bahagia.
          Revan melangkahkan kakinya menuju masjid saat shalat isya telah selesai. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Dadanya sesak lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa kering. Dia menyatakan bahwa dia sudah yakin untuk menjadi saudara seiman dengan mereka. Kemudian imam masjid menuntun Revan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang disaksikan jamaah masjid Ar-Rahman. “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” Revan tidak mampu menahan tangisnya. Ia menangis tergugu dalam pelukan Rio. Sesak dan beban yang mengganjal di hatinya langsung sirna dan digantikan oleh perasaan bahagia.
          Di perjalanan pulang, Revan mengusap wajahnya. Dia akan memberi tahu keluarganya karena mereka berhak tau tentang keyakinannya sekarang. Sesampainya di rumah, Revan mengucapkan salam untuk bi Inah, AST di rumahnya. Bi Inah kaget dan tersenyum penuh arti dengan tuan mudanya itu. Revan langsung menuju kamar mama dan papanya sembari membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Diketuklah pintu kamar mamanya,
“Ma, Pa. Revan boleh masuk?” tanya Revan dengan senyuman.                                
“tumben izin dulu. Tentu boleh sayang, sini. Ada apa sayang?” tanya mamanya lembut.
“Ma, Revan sayang mama,” kata Revan sambil memeluk mamanya. Mama dan Papa Revan saling berpandangan. Mengisyaratkan ada apa?.
“Mama tau, Revan sayang mama. Apa ada sesuatu? Bicaralah sayang.” Mama dan Papa Revan tahu kebiasaan anak tunggalnya ini, jika ada yang ingin dia sampaikan atau sesuatu yang dia minta, maka dia akan bersikap sangat manis. Revan mengangguk seraya tersenyum kepada papanya dan menuntun mamanya untuk duduk di sofa.
“Mama duduk yah” Dengan lembut, Revan menyuruh mamanya untuk duduk di atas sofa, sedangkan dia duduk di bawah tepat di dekat kaki mamanya.
“kenapa kamu duduk di bawah?”
“karena Revan ingin menyentuh kaki mama.” Revan tersenyum. Mama Revan menatap putranya dengan pandangan terkejut,
“ka..kamu kee..kenapa?”tanya mamanya dengan suara parau.
“karena surga Revan ada di bawah telapak kaki mama,” ucap Revan, walaupun sekarang mereka berbeda agama. Namun surga Revan tetap berada di bawah telapak kaki mamanya. Dia harus tetap menjaga dan menyayangi mamanya.
“Re..Revan..ka..kamu? ap..apa ka..kamu?” Mama Revan cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Mengerti dengan ucapan mamanya yang patah-patah. Revan menganggukan kepalanya dan tersenyum lembut.
“Maafkan Revan Mahh Pahh.. ini pilihan Revan.” jawab Revan masih dengan senyumannya.
Mama Revan langsung berdiri, dia menatap Revan dengan pandangan kecewa, “sejak kapan? Sejak kapan kamu...” Mama Revan tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, hatinya terasa begitu sesak, seluruh anggota tubuhnya mati rasa. “kenapa kamu melakukan itu Revan?”
          Revan beranjak dari duduknya untuk meraih tangan mamanya. Plak.. Namun yang Revan dapatkan sebuah tamparan di pipi kirinya.
“jangan tinggalin mama Revan. Apa salah mama sama kamu? Kenapa kamu melakukan ini” luruh mama Revan di lantai. Revan memeluk tubuh mamanya yang bergetar.
“Mama enggak ngelakuin salah apapun sama Revan. Revan enggak akan ninggalin mama dalam keadaan apapun. Walaupun mama yang nyuruh Revan pergi, Revan gak akan pergi dari mama. Revan selalu sayang sama” kata Revan yang diakhiri dengan kecupan manis di puncuk kepala mamanya.
          Revan berdiri untuk menghampiri papanya. belum sempat Revan berbicara, Herland, menyeret Revan keluar dari kamarnya. Dengan suara tertatih, Revan berkali-kali mengucapkan kata maaf untuk papanya. Revan juga mendapatkan satu tamparan lagi dari papanya. Dengan sesenggukan Mama Revan terus memohon pada Revan “Mama mohon Revan, kembalilah. Ke..kembali. Jangan khianati Mama Revan!” Mendengar permohonan Mamanya, Revan hanya tersenyum dan menggeleng kecil sampai pintu kamar dibanting keras olah papanya.
          Ketua OSIS SMA Nusa Cendekia, tampan, cerdas dan pintar. Empat kategori bergensi disandang langsung oleh seorang Revan. Maka tak heran, kabar sekecil apapun tentang Revan dalam hitungan detik akan menyebar luas. Dari kalangan guru-guru, penjaga sekolah, bahkan langganan siomay milik Geighi pun tahu jika Revan telah masuk islam saat banyak orang yang melihat Revan mengikuti jamaah shalat dzuhur di sekolahnya. Melihat kejadian itu, banyak murid yang mengucapkan alhamdulilah. Bahkan siswi-siswi SMA Nuski pun banyak yang mengharapkan Revan sebagai imamnya. Namun lain halnya dengan Dika, sahabat Revan dari SMP. Saat Revan tiba di kelas, Revan langsung ditonjok oleh Dika.
“sialan lo Van!” emosi Dika meluap. Tak henti-henti menonjok Revan, namun Revan tak ingin melawan temannya ini sampai ketua kelas memisahkan mereka.
“lo kenapa Dik?” tanya Revan baik-baik.
“lo yang kenapa Van?! Cuma karena cewek sok suci itu, lo sampe ngehianati kami! Lo buat Mama lo nangis, lo buat kelurga lo kecewa Van!” bentak Dika ” Cuma karena lo jatuh cinta sama cewek sialan itu, lo sampe pindah keyakinan Van? Van, dia gak peduli tentang perasaan lo ke dia. Lo pinter, tapi lo begok.” Lanjut Dika pelan, tepat di samping telinga Revan. Kemudian dia meludah di hadapan Revan dan pergi dengan memicingkan mata tanda menghina Revan.
          Revan kecewa, dia kira Dika satu-satunya sahabatnya akan mendukung keputusannya. Namun sebaliknya, dia malah sangat membenci Revan. Tak jauh dari Revan duduk, terdengar Nada dan Nenden berlari mencarinya. 
“Van! Gawat. Geighi di tarik sama Dika ke aula. Kita ngikutin sampe aula. Tapi Dika melototi kami sampe matanya mau keluar. Ngeri. Kek Limbad Van!” adu Nenden, karena Nada sibuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Tanpa babibu, Revan langsung berlari menuju aula sekolahan, yang jaraknya cukup memakan waktu lama. Karena gedung sekolah Revan sangat luas.
“heh lo! Lo jampi-jampi apa si Revan, sampe dia ngehianati kita?! Ini gara-gara lo! Andai Revan gak jatuh cinta sama lo, dia bakal ngehianatin kita!” bentak Dika tepat di hadapan Geighi yang menunduk ketakutan. Dika menyeramkan saat marah, padahal baru kemarin dia bercanda gurau dengan Dika, namun sekarang dia berubah jadi monster yang siap menerkam. Sungguh Allah pandai membolak-balikan hati manusia.
“aku gak ngapa-ngapain Revan. Keputusan Revan itu karena hidayah dari Allah. Bukan karena aku, apalagi jampi-jampi.” Jawab Geighi menahan rasa takutnya. Dika menonjok dinding tepat di sebelah Geighi untuk meluapkan emosinya sampai buku-buku tangannya memerah, sedangkan Geighi terkejut bukan main. Ingin sekali dia encaci maki Geighi, namun lidahnya kelu tenggorokannya tercekat. “Arrgghhhh” raung Dika.
“Masih ada yang mau kamu tanyakan?”tanya Geighi kemudian Dika menunduk dan duduk lemas di lantai.
“kalau begitu, aku keluar. Bentar lagi bel masuk” kata Geighi sambil pergi dari aula.
“Ghi, lo gapapa? Dika ngapain lo?” tanya Revan saat baru mau menaiki tangga aula.
“aku gapapa Van dia Cuma tanya alesan kamu mualaf. Aku jawab karena Allah. Benar kan Van, kamu mualaf karena Allah?” tanya Geighi yang mendapatkan anggukan serta senyuman yang manis dari Revan, jika kebanyakan wanita akan terpukau. Namun berbanding balik dengan Geighi yang langsung beristighfar.
          Sudah 2 bulan Revan di usir dari rumahnya dia tinggal di apartemen milik Nino, kakak sepupu Revan, satu-satunya keluarga Herland yang masih menyayanginya. Revan  sering mengirim paket bunga mawar kesukaan Mamanya dan mengingatkan Mamanya untuk menjaga kesehatannya. hal itu Revan lakukan agar Mamanya masih bisa merasakan sayang Revan. Revan benar-benar dikucilkan oleh keluarganya. Semenjak kejadian itu, Revan juga bersikap dingin kepada Geighi dan teman-teman lainnya. Di waktu jam kosong atau istirahat, Revan hanya menghabiskan waktunya di masjid dan menghafalkan ayat suci Al Quran. Dia memang sudah mengambil keputusan itu sebelum mualaf, dia dikucilkan keluarganya, maka dia akan mengucilkan diri dari lingkungan sekitar.
          Geighi juga terdiam pasrah saat melihat nilai matematikanya, tidak akan mengadu pada Revan, karena Geighi tau, Revan menjauhinya. Jarak diantara keduanya sudah sangat jauh. Revan yang sudah mengenal agama itupun tidak berani mendekati Geighi jika tanpa alasan yang akurat, bahkan saat sudah ada alasan yang akurat, Revan pun masih menghindarinya. Berbanding balik dengan dulu, dulu Revan gencar sekali mendekati Geighi, namun sekarang tidak!. Satu hal yang Geighi tidak tahu, perassan Revan kepadanya masih sama.
          “kok adik kakak murung?” tanya Rio saat Geighi membaca novel, namun pandangannya kosong. Lebih tepatnya melamun.
“karena Revan ya?” Tepat! Geighi langsung menengok Rio dan mengangguk lesu.
“udah sewajarnya kalian jaga jarak, dulu kalia terlalu dekat.”
“kakak tau kenapa Revan jauhin aku?” tanya Geighi
“tidak banyak. Nanti biar Revan sendiri yang menjelaskannya” Jawab Rio. Geighi masih ingin terus bertanya, namun mengingat sifat kakaknya yang amanah, Geighi urungkan niatnya itu.
          Revan tak pernah berhenti memohon kepada Allah untuk membuka hati kedua orang tuanya, dan tak lupa dia menyebut nama Geighi dalam doanya. Setelah melaksanakan shalat, Revan duduk menyendiri di kantin. Dia memandangi kartu peserta olimpiade matematika yang bertuliskan 08, mengingatkan tentang olimpiade yang selalu ia ikuti. Namun tahun ini berbeda, tidak ada Geighi di sampingnya apalagi Mama dan Papanya. Revan menghela nafas panjang, berharap dia berhasil memenangkan olimpiade ini lagi walau tanpa orang yang ia kasihi.
          Revan terkejut bukan main, keringat dingin menyucur di dahinya. Berharap semuanya akan baik-baik aja, Papanya datang di lokasi Revan lomba dengan raut muka yang tidak dapat dibaca olehnya. Sedangkan Mama Revan datang dengan mata sembab. Apa yang terjadi ya Allah? Tanya Revan dalam hati. Papa Revan berjalan setengah lari untuk menghampiri Revan, Revan menunduk sedikit takut dan buk... Revan terkejut bukan main, papanya, papanya memeluknya. Revan rindu pelukan dari papanya.
“Maafin papa sayang, maafin papa yang udah jahat sama kamu” Revan menangus dalam pelukan papanya, dia bersyukur kepada Allah telah kembalikan keluarganya.
“maafin papa yang enggak ngehargai keputusan kamu, papa sayang kamu. Kembali ke rumah ya sayang” ajak papanya sembari menghapus sisa-sisa tangis Revan, belum sempat Revan menjawab, mama sudah membawanya ke dalam pelukannya. Sungguh Revan sangat berterimakasih kepada Allah, apa yang dikatakan Geighi benar saat Revan baru diusir oleh papanya Revan sabar ya. Allah tidak akan menguji umatnya melewati batas kemampuan umat tersebut. Pasti kamu bisa Revan. Saat mamanya mengurai pelukannya, Revan tak sengaja melihat Geighi sedang berjalan ke arahnya dengan tersenyum. Revan berpamitan ke orang tuanya untuk menghampiri Geighi sebentar.
“Geisha, terimakasih ya buat semuanya.” Geighi tersentak, Revan memanggilnya dengan sebutan Geisha. Akhirnya Geighi hanya tersenyum kaku.
“Geisha Ghania, gue minta ke elo buat jaga diri lo sampai gue dateng buat jemput lo suatu saat nanti.” Lanjut Revan dengan nada serius. Jantung Geighi bergetar hebat, ia tau apa maksud Revan. Geighi lantas mengangguk dan tersenyum manis, sangat manis.
          Revan dan Geighi hanya saling mendoakan satu sama lain. Saling meminta kepada Rabb-Nya dalam waktu sepertiga malamnya hingga mereka benar-benar dipertemukan oleh ikatan suci pernikahan.
Contoh cerpen yang bertemakan agama. terima kasih sudah membaca semoga bermanfaat...
happy weekend:)

MITOS ATAU FAKTA ???


Para readers pasti super kepo banget ni, apalagi sama mitos-mitos yang banyak beredar. Nah... pasti bingung mau percaya apa gak ya... mending langsung cek aja bener apa gak....
MITOS 1: Sarapan buah bikin badan lemas. 

Faktanya, justru bagus saat anda mengkonsumsi buah di pagi hari. Saat itulah tubuh sedang mengalami fase pembersihan pencernaan, sehingga anda justru tidak boleh makan yang berat-berat dan dianjurkan untuk makan buah-buahan seperti pisang, apel, atau wortel. Buah-buahan tersebut mengandung banyak serat dan fruktosa, yaitu gula asli buah yang berguna untuk menambah tenaga. Jadi, tubuh akan menjadi kuat meski hanya makan buah. Akan lebih bagus kalau ditambah dengan putih telur yang mengandung protein tinggi.
MITOS 2: Menghindari salah satu waktu makan adalah cara yang tepat untuk menurunkan berat badan. 
Faktanya, tubuh kita membutuhkan kalori dan nutrisi seimbang agar dapat berfungsi dengan baik. Jika tidak makan di salah satu waktu makan, biasanya kita justru ingin makan makanan kecil atau makan lebih banyak di waktu makan berikutnya. Sudah banyak penelitian menunjukan, bahwa orang yang tidak sarapan lebih banyak mengalami masalah kegemukan daripada yang melakukan sarapan secara sehat.

MITOS 3: Dengan rajin berolahraga, tidak perlu khawatir kolesterol darah. 
Faktanya, selain olahraga masih banyak faktor lain yang mempengaruhi kadar kolesterol darah seperti makanan, berat badan, kebiasaan merokok dan keturunan. Olahraga membantu mengontrol kadar kolesterol darah dengan cara meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Namun dengan olahraga saja belum tentu kadar kolesterol darah akan terjaga dengan baik.
MITOS 4: Minum air es membuat badan jadi gemuk.
Faktanya, air tidak akan bisa membuat tubuh menjadi gemuk karena air tidak mengandung kalori sama sekali. Justru yang bisa membuat badan jadi gemuk adalah air es yang manis karena mengandung gula, misalnya es buah yang dicampur sirup. Jadi kapanpun anda ingin minum air es, ya boleh-boleh saja sepanjang tidak mempunyai alergi dengan es batu atau mungkin sedang sakit batuk atau pilek.
MITOS 5: Obat tidak baik diminum bersama susu. 
Faktanya, tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama susu. Ada beberapa obat, terutama yang bersifat mengiritasi lambung, justru dianjurkan untuk diminum bersama susu atau pada waktu makan. Gunanya agar susu atau makanan tersebut dapat mengurangi efek iritasi lambung dari obat yang dikonsumsi. Walaupun susu atau makanan akan sedikit mengurangi daya kerja obat tersebut, namun efek perlindungannya terhadap iritasi lambung lebih besar. Obat-obatan yang sebaiknya TIDAK dikonsumsi bersama susu adalah antibiotik, karena penyerapan zat-zat aktifnya dapat dihambat. Oleh karena itu, susu sebaiknya diminum sekitar 2 jam setelah atau sebelum minum obat antibiotika.


Fakta Menarik Benua Asia

Indonesia, negeri yang kita banggakan ini terletak di benua Asia. Benua Asia merupakan salah satu dari ke lima benua yang ada yang memiliki ukuran paling besar. 
Berikut merupakan fakta-fakta unik seputar benua Asia yang harus kita ketahui supaya lebih mengenal daerah tempat kita berada.


  1. Lebih dari 4 milyar orang dan 30% dari luas daratan di Bumi, Asia ialah benua terbesar dan terpadat di Bumi.
  2. Titik tertinggi daratan di dunia yaitu Gunung Everest (lebih dari 8.848 meter di atas permukaan laut), dan titik terendah daratan di dunia yaitu Laut Mati (-395 meter), ditemukan di Asia.
  3. Jika Anda berada di Jepang, maka Anda tidak boleh untuk gemuk sebab bertentangan dengan hukum, kecuali kalau Anda seorang atlet sumo.
  4. Pada tahun 2012, ada banyak jutawan di Tokyo, Jepang (460.700 orang), dibanding di New York City (389.100 orang).
  5. Di Jepang, ada lebih 50.000 orang yang telah melampaui batas usia 100 tahun.
  6. 90% dari total beras di dunia dikonsumsi di Asia.
  7. Hanya 2 negara di dunia, China dan India, yang mempunyai jumlah penduduk di atas 1 milyar orang, dan keduanya berada di Asia.
  8. Menurut Sensus India 2001, India mempunyai 122 bahasa utama dan 1599 bahasa lainnya.
  9. Orang terkaya di Asia, Sir Ka-Shing Li, putus sekolah pada usia 15 tahun.
  10. Bahasa yang paling banyak diucapkan di dunia bukanlah Bahasa Inggris, melainkan Bahasa Mandarin yang mempunyai lebih dari 1 milyar pembicara.
  11. Olimpiade 2008 di Beijing, China merupakan olimpiade termahal sepanjang sejarah dunia, yang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar 40 milyar dollar
    .
  12. Negara terluas di Asia ialah China yaitu 9.596.950 km² dan negara terkecil di Asia ialah Macau (30,5 km²)
  13. Sungai terpanjang di Asia ialah sungai Yangtze yang terletak di China, mempunyai panjang 6.380 km, yang juga merupakan sungai terpanjang ke-3 di dunia.
  14. China merupakan negara terbesar ketiga di dunia tetapi hanya mempunyai 1 zona waktu.
  15. Dari 3 negara dengan ekonomi terbesar di dunia, 2 diantaranya berada di Asia yaitu China (kedua), dan Jepang (ketiga). Posisi pertama ditempati oleh Amerika Serikat.
  16. Indonesia ialah penghasil minyak sawit terbesar di dunia.
  17. Candi Borobudur di Indonesia merupakan Monumen Buddha terbesar di dunia.
  18. Korea Selatan ialah pasar terbesar untuk operasi plastik terbesar perkapita di dunia.
  19. Korea Utara mempunyai tiang bendera terbesar di dunia, mempunyai ketinggian 98,4 m dan berat sekitar 272 kg.
  20. Filipina ialah pengekspor kelapa dan buah tropis terbesar di dunia, ibarat pepaya dan manggis.
  21. Filipina ialah satu-satunya negara lebih banyak didominasi Kristen di Asia, yaitu sekitar 80% dari total penduduknya beragama Kristen.
  22. Filipina ialah negara pertama di Asia Tenggara yang mendapat kemerdekaan sehabis Perang Dunia II, pada tahun 1945.
  23. Filipina mempunyai kecepatan internet paling lambat diseluruh wilayah Asia Tenggara dengan kecepatan rata-rata 3,54 Mbps.


Cerpen bertemakan keluarga




TAWA UNTUK BUNDA
(Karya: Zahra Hansuri)

Srek...srek... suara langkah sepatu terdengar dari dalam rumah. Seketika aku dan yang lainnya pun bersiap di tempat masing-masing untuk melakukan aksi yang telah kami rencanakan sebelumnya.
”Tok...tok...tok, assalamualaikum, bunda ”, teriaknya dengan malas.
Karena tak kunjung dibukakan pintu akhirnya dia meraih gagang pintu dan tiba-tiba Surprise...teriak kami dengan serentak. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun adikku, Oriana Suri Laksmita. Kejutan ini sudah kami persiapkan sejak lama. Suri pun terlihat terkejut sekaligus bahagia dalam waktu bersamaan.
            “Terima kasih, ayah, bunda, abang Chandra, abang kecil juga, Suri gak nyangka kalian sempetin buat acara hari ini” tanpa disadari menetes air mata dari pelupuknya.
“Iya sayang, sama-sama, ini semua ide abang Chandra” jawab ayah sambil menggendong abang kecil.
”Tahu gak perjuangan abangmu?, dia rela bunda suruh bolak balik ke pasar buat beli coklat sama cream gara-gara bunda kelupaan beli ”kata bunda menambahi.
“Makin sayang deh sama abang, makasih ya” goda Suri dengan manja
“Iya Suri, abang juga sayang” jawabku sambil mencubit pipi gembulnya.
Suasana rumah menjadi ramai penuh canda tawa serta kebahagiaan. Kami menghabiskan sore kami bersama. Kegiatan seperti ini jarang terjadi, karena kesibukan masing-masing menyebabkan kami jarang berkumpul.
“Bun... Chandra balik ke kosan dulu, masih ada tugas yang belum dikerjain “ kataku sambil bersiap-siap memakai  jaket.
“Kok udah balik, cepet amat, gak jamaah di rumah dulu bang?, terus baru balik!” jawab bunda.
“Masih kurang 45 menit bun, abang bisa sampek kosan kurang dari 30 menit dan pastinya belum ketinggalan magribnya“ kataku memaksa.
“Ya udah, hati-hati! “ ucap bunda dengan sedikit kecewa.
Sebenarnya jarak rumah dan tempatku kuliah tidaklah jauh, tetapi untuk meminimalisir terjadi keterlambatan aku memutuskan ngekos di daerah sekitar kampus.
“ Abang bawa mobil aja, weekend ayah gak ada acara kok ” kata ayah.
“ Gak usah yah, besok lusa Abang juga free jadi balik rumah” jawabku.
“ Nah, kebetulan banget gimana kalo lusa kita jalan-jalan aja “ serbu bunda dari dapur.
“ Ih... setuju bunda” kata Suri keluar dari kamar.
“ Kita juga kan jarang kumpul, manfaatin waktu luang ya” tambahnya.
“Oke, lusa kita pergi ke pantai, gimana setuju?” tanya ayah. Kami pun menyetujui agenda weekend tersebut.
Setelah itu aku berpamitan dan langsung pergi. Sesampainya di kosan aku langsung membuka laptop dan mulai mengerjakan tugas-tugasku. Untunglah kali ini aku tidak perlu melakukan pengamatan terlebih dahulu. Biasanya aku harus menggunakan pisau bedah dan alat-alat laboratorium lainnya untuk mengamati struktur manusia dan lainnya. Aku menyelesaikannya dengan cepat dan langsung mengambil posisi tidur setelah sebelumnya menutup malamku dengan salat witir terlebih dahulu.
Keesokan paginya seperti biasa, aku bersiap menuju kampus dengan mengendarai sepeda motor antikku. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit aku sampai di kampus kebanggaanku. Dari jauh sudah nampak tulisan FAKULTAS KEDOKTERAN yang terpampang secara jelas. Aku mengikuti kelasku hari ini dengan baik, alhamdullilah. Setelah kelas berakhir aku tidak langsung pulang, aku merasa sangat lapar untuk itu aku memberhentikan motorku di  depan kedai soto langgananku. Selera makanku bukannya selera desa tapi aku lebih memilih makan di sini daripada di cafe apalagi pada jam rame seperti ini . Biasanya jika ada kerja kelompok barulah kami akan mengerjakan di cafe selain karena tempatnya yang dingin, dan gaul buat nongkrong juga karena alasan free Wi-Fi.
Setibanya di kosan aku ingat rencana kami untuk pergi berlibur ke pantai besok. Rumah kami letaknya jauh dari pantai bisa dibilang di jantung kota maka dari itu untuk menghilangkan kebosanan di kota ayah memilih pantai sebagai destinasi wisata kami besok. Tetapi menurutku masih ada alasan lain kenapa ayah mengajak kami ke pantai apalagi kalau bukan untuk bernostalgia. Karena dipantailah pertama kali ayah dan bunda bertemu.
Setelah itu aku langsung membereskan semua buku dan tugas-tugas akhir semesterku. Lalu, aku mandi dan bergegas pulang ke rumah. Ternyata di rumah bunda dan Suri sudah menyiapkan semuanya untuk besok. Aku yakin jika ada mereka berdua semuanya akan beres. Besok bukanlah hari Minggu tetapi hari Sabtu. Ya berlibur di hari Sabtu lebih menguntungkan karena dapat beristirahat di hari minggunya setelah lelah berlibur. Ditambahlah lagi dengan beberapa alasan yang meyakinkan kami besok hari yang tepat untuk berlibur seperti, besok Suri tidak berangkat sekolah karena kebijakan SMP Suri yang fullday schooll, kelasku yang diliburkan karena Pak Budi dosenku cuti beberapa hari untuk pergi umroh, dan terakhir fakta bahwa PNS yang bekerja di kantor pemerintahan seperti ayahku pun libur di hari Sabtu.
Pagi harinya kami bekerja sama mengemas peralatan dan segala macam bekal untuk nanti. Setelah sarapan terlebih dahulu barulah kami berangkat. Di perjalanan terjadi sedikit kendala dengan abang kecil. Dia berkali-kali pup sehingga kami harus berhenti untuk mencari toilet. Awalnya kami menganggap biasa saja tetapi dengan Yasa yang menangis terus menerus membuat kami khawatir. Akhirnya ayah pun berinisiatif menyuruhku menghentikan mobil  jika ada klinik.
Setelah beberapa saat berkendara aku menemukan sebuah klinik yang lumayan besar. Kami pun berhenti sejenak untuk memeriksakan Yasa di sana. Sekitar 30 menit di klinik kemudian kami tetap melanjutkan perjalanan. Dokter mengatakan bahwa abang kecil baik-baik saja tidak perlu cemas berlebih, beliau juga sudah meramu obat untuk Yasa. Hampir 3 jam berlalu barulah kami sampai di pantai. Deburan ombak dan sengatan sinar matahari sudah menyambut kami.
Sebelum berenang, aku dan Suri menurunkan bekal dari mobil kemudian menyusunnya di gubuk yang telah kami sewa. Setelah itu berganti pakaian dan siap untuk berenang di pantai.
“Abang, kita balapan yuk, dari sini sampai sana” ajak Suri sambil menunjuk batas finish sekitar 30 meter dari tempat kami saat ini. Aku pun menyetujui ajakan Suri. Kami bersiap di garis start.
“Bunda sama abang kecil jadi wasitnya” kata bunda memberi semangat. Perlombaan pun dimulai, pada awalnya akulah yang memimpin pertandingan tapi di tengah perjalanan kakiku terkena batu karang sehingga membuat gerakanku terganggu. Akhirnya pertandingan itu dimenangkan oleh Suri, aku harus mengaku kalah darinya mungkin lain kali aku bisa menang melawannya.
Bukan hanya lomba renang, ayah juga sudah membawa bola untuk bermain kucing-kucingan dalam air. Bunda dan Yasa pun mengamati kami dari bibir pantai sambil merekam dan bersorak sorak. Keadaan pantai saat ini lumayan ramai, tapi karena bukan libur panjang kebanyakan pengunjungnya masyarakat lokal dan beberapa kutemui keluarga seperti kami yang jauh-jauh datang dari kota demi menikmati pemandangan yang indah dan asri ini. Pantai di sini bersih dan tidak tercemar polutan seperti pantai kebanyakan sehingga pengunjung dibuat nyaman dan betah di sana.
           
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.05, terdengar muazin mengalunkan azan, kami pun menghentikan aktivitas kami sementara. Setelah itu karena waktu makan siang telah tiba kami pun makan siang terlebih dahulu dengan bekal kami tadi kemudian dilanjut dengan salat zuhur di masjid. Lalu, kami melanjutkan dengan berfoto bersama. Tak lupa Suri juga sudah membawa tripod sehingga memudahkan kami untuk mengambil gambar. Ayah dan bunda pun bercerita tentang pertemuan pertama mereka di sini. Sambil menggandeng bunda dan di belakangnya ada aku yang menatih abang kecil dan Suri yang berjalan di sampingku. Kami berjalan-jalan menyusuri tepian pantai bersama.
Kemudian semuanya berubah, air pantai tiba-tiba surut padahal belum waktunya. Disusul dengan getaran dari dasar laut yang berhasil membuat tanah-tanah yang tertutup pasir pun terbelah. Kami semua langsung berlari menuju gubuk untuk segera pergi dan menyelamatkan diri. Tapi, tiba-tiba ombak laut setinggi 100 meter datang menghantam kami semua. Semuanya terasa begitu cepat aku kehilangan genggamanku dengan Yasa dan Suri. Terakhir yang kuingat adalah pemandangan ketakutan dari semua orang dan teriakan dari segala sudut. Aku sudah pasrah dengan semuanya, aku berharap kami bisa selamat walaupun dalam hati kecilku, aku meyakini pasti kami tidak akan selamat tapi itu tidak masalah jika kami tetap bisa bersama di surga.
Tubuhku terasa ringan sekali, sangat ringan seperti melayang di ambang kematian. Aku yakin pasti sekarang aku sudah berada di alam barzah menunggu namaku dipanggil untuk mendapat balasan sesuai dengan apa yang kuperbuat selama ini. Tunggu, tapi aku mendengar orang bercakap-cakap, benar aku mengenal suaranya, di mana mereka. Ah, tempat  apa ini begitu terang sekali, membuatku kesulitan untuk melihat keadaan sekitar. Batinku pun senang, ya... aku menemukan mereka, ayah, Suri, dan abang kecil mereka terlihat bahagia. Tapi, di mana bunda, aku tidak melihatnya. Aku pun menghampiri mereka bertiga.
“Ayah di mana bunda, dan di mana kita sekarang?” tanyaku penuh harap. Ayah mengulum senyum, “Kita semua baik-baik saja, bunda pun begitu, sekarang tugas abang jaga bunda di sini, ayah tahu ALLAH itu adil jadinya tugas jaga Suri sama Yasa untuk ayah”. Bingung mendengar perkataan ayah tadi, belum sempat aku membuka mulut untuk bertanya lagi tiba-tiba Suri berkata,
“ Abang, baik-baik di sini ya, kami akan selalu ada buat abang” ucapnya sambil menunjuk ke arah hati. Mereka melambaikan tangan dan mengucapkan salam sebelum akhirnya hilang. Seperti mimpi tapi ini terlalu nyata.
Tiba-tiba aku terbatuk lalu ketika aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Bingung, takut, sedih, semua perasaan itu membuat pikiranku semakin kalut. Akhirnya ada seorang suster yang menyadari keadaanku. Dia pun pergi memanggil dokter, setelah itu dokter datang dan memeriksaku. Dia mengatakan aku mengalami koma selama 3 hari, dan untungnya organ vitalku tidak bermasalah, hanya ada trauma pasca tsunami yang masih menyelimutiku.
Aku bersyukur karena ternyata ALLAH masih memberikan kesempatan kepadaku untuk hidup dan memperbaiki kehidupanku. Aku pun langsung teringat dengan kilasan mimpi tadi. Kemudian kubelalakkan mata ke semua penjuru rumah sakit untuk mencari mereka. Aku pun bertanya kepada suster di sampingku, dia mengatakan bahwa jika ingin melihat daftar pasien bisa dilihat di papan informasi, pasien-pasien tersebut dikelompokkan berdasarkan tempat ditemukannya dan kondisinya apakah masih hidup atau sudah menjadi jenazah, kebanyakan dari mereka tidak memiliki identitas. Dia pun menawarkan bantuan kepadaku tapi aku menolak dengan halus dan memilih untuk pergi sendiri. Dengan berjalan tertatih aku pun mencari papan tersebut, aku merasa senang setelah menemukannya.
Kubaca dengan seksama daftarnya, aku berharap bisa menemukan nama-nama keluargaku, hasilnya nihil. Kemudian, aku berpikir untuk mencari mereka dengan mendatangi kamar-kamar pasien satu persatu. Dengan keadaanku sekarang mustahil aku dapat berjalan mengelilingi rumah sakit tetapi dengan tekad yang bulat aku pun mulai mencari mereka. Perlahan tapi pasti aku membuka tirai-tirai pasien sambil sesekali berhenti untuk memberi jalan kepada pihak medis untuk lewat membawa korban maupun jenazah.
Pencarianku ternyata tidak sia-sia aku dapat menemukannya, tidak... bukan mereka melainkan hanya bunda. Ya, hanya bunda seorang aku melihatnya terbaring dengan luka di sana-sini dengan baju yang masih sama, sepertinya bunda baru ditemukan. Aku langsung menghampirinya, tak sanggup aku melihat sosok bunda seperti ini. Aku mencoba memanggilnya beberapa kali dan akhirnya bunda pun membuka matanya. Sungguh lega hatiku, kucium dan peluk dirinya. Lalu, aku memanggil dokter untuk memeriksa keadaan bunda. Setelah itu bunda pun bertanya “Abang, bagaimana keadaanmu, dan di mana yang lain”. Aku pun langsung menjawab “ abang baik bun, bunda juga harus baik-baik saja ya, yang lain pasti selamat, abang akan cari mereka semua”. Meneteslah air matanya, mendengar ucapanku tersebut, entahlah apa yang bunda pikirkan saat itu, aku mengusap air matanya dan mulai tersenyum untuk saling menguatkan.
Aku dan bunda di rawat di rumah sakit daerah setempat sekitar 10 KM dari tempat kejadian. Setelah menemukan bunda aku masih terus mencari keberadaan yang lain. Di waktu senggangku merawat bunda, aku menyempatkan pergi untuk mencari kabar dan informasi tentang ayah dan kedua adikku. Aku yakin waktu itu ayah membawa KTP nya , jadi  ada harapan lebih banyak untuk menemukan mereka dengan identitas itu. Tak henti aku mencari bahkan sampai ke rumah sakit lain. Aku memang tidak mengalami cedera yang berlebihan tidak seperti bunda yang mengalami banyak luka dan cedera di pergelangan tangan.     
Bunda dirawat selama 5 hari di rumah sakit, setelah itu kami pun pulang ke rumah. Hanya daerah pesisir pantai yang mengalami tsunamilah yang hancur dan porak-poranda. Aku dan bunda pulang dijemput pamanku, adik dari ayah. Sesampainya di rumah, sudah ada nenek dan bibiku yang menunggu. Mereka mengurus bunda, dan mengantarnya ke kamar. Sementara aku dan paman duduk di sofa ruang tamu. Kami membicarakan bencana yang menimpa keluarga kami. Paman pun menguatkanku. 2 hari setelahnya keluarga kami mengadakan pengajian untuk mengirim doa untuk ayah, Suri, dan Yasa. Bunda sudah mengikhlaskan kepergian mereka, walau dengan terpaksa.
Hari-hari kulewati dengan sangat panjang. Sepi, itulah suasana rumahku saat ini. Setelah kepergian ayah, Suri, dan abang kecil tawa bunda pun ikut pergi bersama mereka. Aku tidak lagi tinggal di kosan, aku memilih menemani bunda di rumah. Kegiatan bunda sehari-hari tidak lebih dari dapur dan kamar. Bunda tetap memasak tetapi setelah itu bunda memilih pergi ke kamar. Pekerjaan rumah tidaklah penting lagi karena tidak ada aktivitas di rumah. Hanya percakapan ketika aku pamit untuk berangkat ke kampus dan selebihnya tidak ada percakapan lagi seperti dulu. Aku mencoba menghibur bunda dengan mengajaknya berjalan-jalan di sekitar kompleks, tetapi ada saja alasan untuk menolaknya. Bertahan dengan sikap bunda yang seperti ini membuatku hampir menyerah, tetapi aku ingat dengan pesan ayah. Aku bertekat akan menjaga bunda bagaimana pun caranya. Aku berjanji pada diriku sendiri akan mengembalikan senyum bunda.

2 tahun berlalu
Aku sudah menyelesaikan studiku, hari yang ditunggu pun datang. Aku dengan sengaja tidak memberitahu bunda tentang hari ini. Bundaku masih sama seperti dulu, walau sekarang bunda agak sering keluar kamar untuk mengurus tanaman anggrek pemberianku. Di hari yang spesial ini aku ingin merealisasikan janjiku. Aku sudah membuat rencana yang cukup matang dan bagaimanapun caranya rencana ini harus berhasil.
Dua hari sebelum wisuda, nenek sudah menginap di rumah. Aku menyuruh nenek mengajak bunda pergi ke kebun anggrek di hari wisudaku itu, bunda pun setuju. Besoknya ketika aku sudah berangkat ke kampus di pagi hari buta, sesuai rencana paman yang akan mengantar bunda dan nenek. Ya, mereka pergi tapi bukan ke kebun anggrek melainkan ke acara wisudaku. Lima belas menit sebelum acara dimulai bunda tiba di kampusku. Paman beralasan mengambil sesuatu dari temannya, setelah paman pergi nenek pun pergi karena ia ingin buang air kecil. Lama menunggu paman, dan nenek, akhirnya bunda keluar mobil.
Tidak jauh dari parkiran tersebut, terdapat aula tempat penyelenggara wisudaku, bunda pun ternyata merasa tertarik dan melangkah masuk ke dalam aula dan di situlah ada aku.
“Bara Chandra Aryasetya, peraih nilai cumlaude sekaligus sebagai mahasiswa dan dokter muda terbaik, berikan applause yang meriah” ucap pembawa acara dengan semangat.
Aku berdiri di depan podium dan menerima penghargaan itu. Bunda menatapku. Aku melihat rautnya, begitu bahagia dan bangga. Setelah itu, aku turun dan menghampirinya, dia tertunduk, menangis tersedu-sedu, dan bersembunyi dipunggungku. Bunda meminta maaf kepadaku karena selama ini dia tidak pernah memperhatikanku dan menganggapku tidak ada. Bunda masih belum bisa menerima kenyataan pahit waktu itu, bunda masih merasa berduka sehingga mengacuhkanku, tetapi sekarang dia telah menerima dan mengikhlaskan semuanya. Di akhir percakapan kami, bunda menciumku dan mengulas senyum manis. Rencanaku berhasil, setelah acara selesai kami langsung pulang ke rumah. Di rumah sudah ada bibi yang menyiapkan makanan kemudian aku, bunda, paman, serta bibi makan bersama. Di sesi makan bersama bunda sudah bisa tertawa mendengar candaan paman.
Akhirnya aku bisa merasakan hari tanpa sepi lagi, kukembalikan senyum dan tawa bundaku. Ayah, Suri, Yasa... aku sudah menepati janjiku kepada kalian, aku sudah membawa tawa bunda kembali. Aku yakin kalian semua juga tersenyum bahagia melihat kami di sini.

TAMAT

Ini lah contoh cerpen yang bertemakan bunda. Banyak banget nilai-nilai yang dapet kita ambil dari cerpen diatas. So, jangan lupa buat comment, karena comment dari kalian itu sangat membantu bagi penulis yang masih amatiran ini hehehe....










Sunday, 11 November 2018

Mitos IPA VS IPS

Guten morgen.....
Mau tanya ni, kalian ambil jurusan apaan ya pas sekolah IPA atau IPS. Alesannya apa ngambil jurusan itu apa karena doi nya disana atau karena hal lain. Banyak anak salah pilih jurusan karena kemakan sama mitos-mitos yang ada. Seharusnya, kalo mau ambil jurusan itu yang sesuai sama minat dan bakat, bukan karena disuruh orang tua atau apaapun alasan yang gak masuk diakal. 

Nah, ini dia mitos-mitos jurusan IPA dan IPS, check the sound

1.Lebih Bergengsi Masuk Jurusan IPA Dibandingkan Masuk IPS




Ada nggak sih yang pernah disuruh-suruh sama orang tua buat masuk jurusan IPA, walaupun kamu nggak pengen banget buat masuk IPA. Ya ini nih, produk dari cap bahwa masuk IPA itu bergengsi banget. Kelihatan pintar dan bisa kelihatan suksesnya dari SMA. Tapi masa iya kesuksesanmu bisa dijamin dari masuknya kamu ke jurusan IPA?




2.Jurusan IPA Hebat Dalam Hitung-Hitungan, Jurusan IPS Hebat Dalam Hafalan
  
Eits, tunggu dulu. Nggak selamanya hukum ini berlaku lho. Anak IPA kan juga harus menghafalkan berbagai macam nama ilmiah di biologi, unsur-unsur kimia, rumus penghitungan dan lain sebagainya. Jangan pikir anak IPS nggak jago hitung-hitungan juga. Mereka juga dituntut buat teliti ketika melakukan penghitungan kas atau neraca di pelajaran akutansi.

3. Anak IPA Itu Memang Sudah Sewajarnya Lebih Jago Matematika Daripada Anak IPS


Menurut pengalaman, memang sih pelajaran matematika IPA terlihat lebih berat karena memang disesuaikan dengan hitung-hitungan yang akan mereka aplikasikan dalam ilmu pasti. Ada pula sekolah yang memperpanjang jam pelajaran matematika, fisika, kimia dan biologi untuk anak-anak di jurusan IPA. Tapi sekali lagi, hal ini subjektif banget. Soalnya ada juga kok anak IPS yang jago di bidang hitung-hitungan.



4. Anak IPA Bisa Masuk Semua Jurusan Kuliah, Anak IPS Cuma Bisa Masuk Jurusan Sosial, Seni dan Hukum
"Duh, anak IPA mesti ngerebut jatah anak IPS. Kalau mau masuk jurusan Fakultas Sosial dan Budaya, dari dulu kenapa masuk IPS aja?!" Lho, lho, lho. Siapa bilang anak IPS nggak bisa kuliah di bidang IPA? Kamu masih punya harapan kok asal bisa lolos tes. Anak IPA juga penuh perjuangan lho waktu dia harus masuk dan belajar hal-hal berbau sosial.
Well, kalau mau dibilang siapa yang berpeluang lebih besar sukses, kamu sendiri yang bisa menilai ya. Kamu bisa menilai dirimu sendiri, dari seberapa besar semangatmu dan perjuanganmu selama SMA. Jadi sukses atau nggaknya dirimu itu ditentukan oleh keputusan dan komitmenmu, bukan karena jurusan IPA atau IPS yang kamu ambil.